Anak-anak jaman sekarang pasti sudah tidak asing lagi dengan aneka games yang di mainkan di gadget. Masih kecil sudah ahli deh mainnya, sampai kalah mamanya nih. Begitu pula dengan anak-anak dirumah, mereka suka main games di gadget. Tentu saja kami batasi hanya boleh main games pada hari libur sekolah saja supaya tidak kecanduan,

Pelan-pelan saya mau mulai mengenalkan permainan tradisional yang biasa saya mainkan kecil dulu. Minggu ini saya mengenalkan permainan congklak pada Aa dan Ade di rumah. Permainan tradisonal ini yang saya tahu di berbagai daerah mempunyai nama yang berbeda. Saya menyebutnya congklak, tapi suami menyebutnya dakon. Saya beli congklak di toko mainan yang dekat dengan rumah. Harganya cukup murah hanya Rp.19.000 dengan papan dan biji congklak plastik.


Awalnya saat mengajarkan main congklak saya sempat bingung harus di mainkan bersamaan atau sendiri dulu ya. Akhirnya telp mama deh untuk menanyakan cara main awalnya. Buat mengingatkan saja papan congklak terdiri dari 16 lubang, masing-masing pemain memiliki 8 lubang. Setiap lubang di isi dengan biji congklak sebanyak 7 buah, kecuali gunung tidak diisi dengan biki coklak.

Seru juga mengajarkan anak-anak bermain congklak. Kalau Aa sih langsung mengerti dan bisa memankannya tapi Ade agak kesulitan memegang biji congklak pada satu tangannya. Dia mengambil biji dengan tangan kanan dan membagikan biji satu persatu ke lubang dengan menggunakan tangan lainnya. Senangnya bukan main saat mereka memenangkan permainan.


Terbukti bukan permainan tradisional juga bisa membuat anak-anak senang memainkannya.