Menjelang fajar kereta api yang membawa kami dari Jakarta menuju kota Batik, Pekalongan perlahan-lahan mulai berhenti. Kami pun bergegas untuk turun dengan menyiapkan barang bawaan masing-masing. Allhamdulillah setelah setahun lamanya saya bisa menjejakkan kaki lagi di kota ini.



Di Pekalongan kami menunggu  rombongan FamTrip Blogger 2019 yang bertolak dari Semarang untuk bergabung.


Pekalongan selain dikenal sebagai kota Batik, juga ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO pada 1 Desember 2014 lalu. Ternyata Pekalongan menjadi satu-satunya kota di Indonesia dan di Asia Tenggara yang menjadi jaringan kota kreatif UNESCO. 

Tidak afdol rasanya sudah ada di kota batik, tapi tidak belajar batik dan berkunjung ke Museum Batik.

Belajar Membatik di Museum Batik



Sebelum melihat ruangan yang ada di Museum Batik, kami diajak untuk belajar membatik terlebih dahulu. Ada beberapa tahap yang bisa kami pelajari di sini:

Batik Cap

Pelajaran pertama yang kami dapatkan adalah cara membatik menggunakan canting cap untuk menghasilkan batik cap. Selembar kain mori yaitu kain tenun berwarna putih diberikan pada kami untuk dicap. Pilihan canting cap diserahkan pada kami, mau pilih yang bermotif apa. Canting cap ini terbuat dari tembaga dan bentuknya mirip stempel hanya saja ukurannya besar.



Saya pun menggelar kain mori di atas meja empuk yang sudah disiapkan. Canting cap yang saya pilih juga sudah dipanas kan di atas malam yang sudah direbus hingga mencair. Agar malam bisa digunakan suhu harus dipertahankan di angka 60 hingga 70 derajat celcius.

Selanjutnya canting cap di-cap-kan pada kain mori dengan cara menekannya lalu diangkat perlahan. Cairan malam yang diaplikasikan meresap ke dalam pori-pori kain sehingga menembus ke sisi lain kain.

Saya mengecap pinggiran kain terlebih dahulu sebagai list-nya dengan canting cap yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan canting cap yang akan saya gunakan di tengah kain.


Batik Tulis


Intinya batik tulis dan batik cap sama saja pengerjaannya menggunakan canting dan malam. Hanya saja pada batik tulis kita menggunakan canting tulis untuk mengaplikasikannya pada kain mori. Nah, di sini keahlian menggambar dan menggunakan canting diuji karena panasnya malam saat ditorehkan pada kain bisa bleber atau mengalir kemana-mana.

Saya pasrah aja deh dengan hasil batik tulis yang dibuat dan akhirnya minta tolong ahlinya untuk menuliskan nama blog pada kain milik saya. Kalau ahlinya membatik menggunakan canting bisa langsung ya, sementara kami harus membuat pola menggunakan pensil terlebih dahulu.

Proses Pewarnaan Batik

Setelah selesai mencap kain, proses selanjutnya adalah pewarnaan kain dengan mencelupkan kain ke dalam wadah yang sudah berisi pewarna. Uniknya malam yang sudah menempel pada kain tidak akan terkena pewarnaan. Untuk menghilangkan bekas motif cairan malam kain perlu direbus sebentar sehingga menghasilkan 2 warna berbeda yaitu kain mori yang tertutup malam dan warna dari proses pewarnaan.


Membuat batik di selembar kain mori yang berukuran kecil saja membutuhkan waktu dan proses yang tidak mudah. Ini baru satu warna saja lho, bagaimana kalau kain yang dibatik seukuran seprei dan beraneka warna. Makanya gak heran kalau kain batik itu harganya mahal, apalagi batik tulis yang pengerjaannya harus lebih teliti.


Ingat ya kain batik dan kain bermotif batik itu beda. Kain batik dibuat menggunakan malam dan motifnya ada di kedua sisi. Sedangkan kain bermotif batik hanya ada pada satu sisi saja dan pengerjaannya tidak menggunakan malam melainkan menggunakan mesin cetak. 


Ada Apa di Museum Batik?



Di Museum Batik memiliki 3 ruangan yang bisa dikunjungi, ada Mas Passatimur Fajar Dewa atau yang lebih akrab dipanggil dengan Mas Dewa sebagau tour guide kami siang itu.

Sebagai orang Indonesia kita harus bangga lho dengan batik, selain dicanangkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO, batik juga diminati oleh dunia.

Museum Batik Pekalongan yang berlokasi di Jl. Jetayu No.1 Pekalongan memiliki luas 40 meter persegi yang di dalamnya ada sekitar seribuan koleksi batik. Dulunya bangunan tersebut difungsikan sebagai kantor balai kota Pekalongan di masa penjajahan kolonial Belanda.



Museum yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke- Bapak Susilo Bambang Yodhoyono pada 12 Juli 2006. Selain dijadikan pusat data dan informasi mengenai batik, di tempat ini juga menjadi pusat riser dan pengembangan ilmu desain batik dan memamerkan koleksi batik. Pengunjung juga dapat belajar membatik di ruang workshop batik.

Di museum ini terdapat tiga ruangan utama yaitu :

Ruang 1 - batik bineka tunggal ika

Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat dan perlengkapan membatik seperti canting, malam, pewarna, juga koleksi batik. Contohnya untuk pewarna alami untuk batik bisa diambil dari secang daun Indigoferma kulit mahoni dan lain sebagainya.



Di ruangan ini saya juga bisa belajar motif batik yang digunakan jaman dulu untuk berbagai acara. Ternyata motif batik untuk satu acara tertentu berbeda karena mempunyai maknanya tersendiri. Ada batik untuk berkabung dengan motif kawung dan slobog. Batik untuk upacara keagamaan bermotif batik tokwi. Batik untuk kelahiran bermotif kawung. Batik untuk pernikahan bermotif sido mukti, sido luhur dan lainnya. Sedangkan untuk batik untuk masa kehamilan mempunyai batik bermotif bobon angrem.

Dua ruangan lainnya bernama ruang 2 - Batik Nusantara dan ruang 3 - Batik Pekalongan.


Limun Oriental Cap Nyonya Silhuet


Dari Museum Batik, jangan lupa untuk mampir ke pabrik sekaligus kedai Limun Oriental Cap Nyonya Silhuet yang lokasinya tepat berada di belakang museum.



Kami disambut langsung oleh Bapak Bernardi sebagai penerus ke-5 Limun Oriental Cap Nyonya Silhuet yang sudah ada sejak tahun 1920.

Limun Oriental yang dijual di sini mempunyai 8 varian rasa yaitu jeruk, lemon, nanas, mangga, frambos, sirsak, kopi, dan sarsaparilla semua dijual dengan harga Rp7.500, per botol.  Sedangkan kalau minum limun di tempat harga per botolnya hanya Rp5.000, segar sekali rasanya.

Di pabrik limun ini dalam sehari bisa menghasilkan 500 botol limun yang dikerjakan oleh 13 orang pekerja. Air yang digunakan untuk membuat limun diambil langsung dari daerah Petungkriono menggukan paralon yang mengalir hingga ke sana.


Di kedai ini saya melihat kumpulan abg dan anak yang berkumpul untuk minum limun sambil makan ayam geprek. Meskipun lokasinya tidak di pinggir jalan persis, banyak yang berkunjung ke Oriental. Kalau kamu ke Pekalongan, jangan lupa mampir ke sini ya untuk menikmati minuman jadul khas Pekalongan.



Ke Pekalongan jangan lupa juga mampir ke Pasar Setono Pekalongan untuk berbelanja batik. Harga batik di sini bervariasi, tapi menurut saya cenderung murah kok. Dulunya pasar ini ramai sekali karena banyak orang yang lewat saat bepergian menuju ke Jawa Tengan maupun Jawa Timur. Tapi, semenjak ada tol pasarnya mulai agak sepi. Tapi kamu gak usah khawatir kalau mau berbelanja di sini karena disediakan pintu tol menuju ke kota Pekalongan.