Gerbang Tol Bekasi Timur Gerbang Menuju Timur Kota Bekasi banyak dilalui oleh warga sekitar untuk menuju ke Jakarta untuk beraktivitas. Tinggal di Bekasi sudah lama juga sejak aku masih TK kira-kira tahun 1983. Dulu aku tinggal bersama orangtuaku di Bekasi juga, hingga kini setelah menikah juga tetap di Bekasi. Cinta Bekasi ternyata, padahal orang tuaku dan adik-adikku sudah tidak tinggal di Bekasi lagi.

Gerbang Tol Bekasi Timur




Tentang Tempat Tinggal Saya di Bekasi



Yang membuat aku betah dan bertahan tinggal di Bekasi, terutama di rumah yang sekarang aku tempati adalah akses menuju ke Jakarta, Cikampek dan kota lainnya cukup mudah dan dekat. Yang paling mudah dikenali dari perumahan tempatku tinggal adalah Pintu Gerbang Tol Bekasi Timur. Ya perumahan tempat tinggalku posisinya berada tepat di samping gerbang Bekasi Timur.

Ini yang membuatku betah, karena jika aku akan bepergian bisa langsung masuk tol dan keluar tol. Pada saat harus naik angkutan umum pun aku bisa dengan mudahnya menunggu bis ke semua jurusan di Jakarta maupun ke kota lain seperti Bandung, Garut, Bogor, Tasikmalaya hingga ke pantura sana.

Kalau kurangnya adalah tentu saja kemacetan yang terjadi pada saat akan masuk tol maupun keluar pintu tol apalagi kalau hari kerja. Alhamdulillah sejak menjadi ibu rumah tangga aku sudah terbebas dari kemacetan pagi hari. Menurutku kalau sekarang macetnya sudah tidak seberapa dibanding sewaktu aku masih kerja dulu sekitar tahun 2000. Macetnya bisa mengekor dengan panjang. Karena malas menunggu didalam bis biasanya aku dan juga banyak orang memilih berjalan kaki menuju pintu gerbang tol untuk menyambung angkot maupun ojek. Lucunya dulu aku sering iri duh enak banget nih yang rumahnya di PHP jalan kakinya tidak usah terlalu jauh karena dibawah jembatan (Sekarang terkenal dengan jembatan RS Mitra Keluarga Bekasi Timur). Eh ternyata sekarang rumahku di PHP loh dan sering melewati jembatan itu. Lebar jembatan pun sekarang sudah lebih lebar dibanding dulu.

Di Sekitar pintu tol ini banyak sekali penitipan motor dan mobil. Kebanyakan mereka yang bekerja di Jakarta sana menitipkan kendaraannya di penitipan dan mereka memilih naik bis maupun omprengan. Saat aku kerja dulu aku hanya sesekali saja menaiki omprengan. Kalau naik omprengan pegal sekali rasanya kaki karena tertekuk sepanjang perjalanan karena kemacetan di jalan tol. Aku memilih naik bis AC jadi bisa istirahat dan pindah tidur di bis. Banyak kenalan baru di bis yang biasa aku naiki, biasanya sih orangnya itu-itu saja apalagi kalau pergi kerjanya di jam yang sama.

Oh ya ada lagi cirri yang khas dari tempat tinggalku adalah ada patung bambu runcing yang berada di perempatan kalimalang di dekat BTC (Bekasi Trade Center). Kalau di dalam perumahanku ada patung kuda putih yang dinaiki oleh oleh dua orang penunggang yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Kalau yang makanan yang khas dari Bekasi adalah akar kelapa, mirip ya sekilas dengan akar kelapa dari Betawi. Bentuknya mirip sekali dengan akar kelapa, kue ini terbuat dari tepung terigu dan gula yang digoreng dan dibentuk akar kelapa. Walaupun penampakannya seperti akar kelapa tapi kalau dimakan kue ini renyah kok. Sekali mencoba akar kelapa akan ketagihan terus deh. Aku juga baru tahu kalau kue akar kelapa ini menjadi makanan khas daerah Bekasi sejak mengikuti silaturahmi blogger Bekasi dengan Lintas.me. Jadi sekarang punya ide untuk memberikan oleh-oleh waktu mudik nanti, yang biasanya aku bingung makanan khas dari Bekasi apa.

Tulisan ini diikutkan pada 8 minggu ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.