Setiap tahun di sekolahnya Aa ada Exhibition, biasanya ada murid-murid yang menjajakan barang dagangannya. Aa sih selama ini belum pernah mau mencoba untuk ikutan berjualan. Tapi hari ini dia mau ikutan berjualan karena ini salah satu bagian dari pelajaran IPS di sekolahnya untuk pengambilan nilai.

Saya sih masih santai saja belum menyiapkan barang atau makanan apa yang akan dijual di sekolah. Senin sore, hampir magrib masih bingung juga kami menentukan apa yang akan dijual. Kami sempat ke toko grosir untuk membeli camilan anak-anak, tapi sayang sekali antri karena toko sudah mau tutup. Saya mengusulkan bagaimana kalau berjualan telur sosis saja nanti dimasak menggunakan egg master dirumah. Eh dia setuju katanya teman-temannya suka sekali saat Aa membawa makanan tersebut.

Jadilah saya sore itu langsung membeli telur, sosis siap saji, tusuk sate dan mika plastik sebagai tempatnya.

bahan dan perlengkapan untuk berjualan

Malam hari kami berhitung kira-kira berapa nantinya telur sosis ini akan dijual. Tawar menawarnya alot nih sama Aa. Saya menyarankan menjual 3000 rupiah, tapi kalau di pikir-pikir uang jajan anak-anak kan tidak besar ya. Aa sendiri uang jajanya sehari kalau kesekolah sebesar 5000 rupiah. Deal lah akhirnya untuk menjual seharga 2.500 rupiah.

Pagi-pagi saya sudah menyiapkan telur sosis sebanyak 10 buah untuk dijual di sekolah. Memang sengaja tidak menjual banyak, toh ini untuk belajar Aa agar bisa berjualan. Lagi pula dia tidak mau kalau bawa terlalu banyak, malu katanya kalau bawa terlalu banyak. Dalam hati saya juga khawatir nih kira-kira laku gak ya jualannya Aa. Maklumlah dia agak pemalu untuk menawarkan dagangan seperti itu ke seluruh sekolah.

Jadilah telur sosis sebanyak 10 buah, agak tidak sempurna nih karena telur yang saya beli terlalu kecil jadi tidak menutup sosisnya. Lima menit sebelum jam 7 sudah siap, Aa di antar suami ke sekolah, untunglah sekolahnya dekat jadi tidak terlambat. Sebelum pergi saya kasih tau lagi bahwa nanti dijualnya 2000 rupiah saja, khawatir susah mencari kembalian 500 rupiah nantinya.

10 buah telur sosis untuk dijual

Semua mika dimasukkan kedalam kotak plastik ini.
Karena repot menyiapkan telur sosis untuk berjualan, jadilah makan siang Aa belum sempat saya buat. Akhirnya saya mengantarkan bekal makan siang ke sekolah jam 9. Ternyata belum jam istirahat untuk Sholat Dhuha jualannya Aa sudah habis. Allhamdulilah laris manis. Kekhawatiran saya pun sirna, ternyata Aa bisa juga berjualan. Kebanyakan yang membeli sih teman sekelasnya kata Aa. Selesai jam pelajaran Tahfidz teman-temannya langsung minta beli telur sosisnya. Ada juga bu guru yang beli katanya. Barang dagangannya tidak ditawarkan, Aa hanya membuka tutup kotak plastiknya saja :)

Cukup berhasillah belajar berjualannya, walaupun belum sempat menawarkan dagangannya keluar kelas :)