“Anybody can become angry - that is easy, but to be angry with the right person and to the right degree and at the right time and for the right purpose, and in the right way - that is not within everybody's power and is not easy.” ~ Aristoteles




Bukan pekerjaan gampang untuk mengubah suatu game / permainan ke layar lebar berdurasi 90 menitan. Namun Angry Birs Movie ini enak untuk ditonton. Film ini sebenarnya film independent dalam artian tidak dibuat oleh Studio - studio besar Hollywood seperti Disney, Warner Bros, Universal Picture, dan lain - lain. 

Sepenuhnya biaya pembuatan film ini ditanggung oleh Rovio. Rovio ini adalah pencipta asli game Angry Birds. Rovio bertekad agar film ini sesuai dengan keinginannya dan tidak melenceng. Selanjutnya Rovio membentuk team kecil yang terdiri dari 8 orang untuk menyusun cerita, environment dan karakter dari film Angry Birds. Setelah jadi ceritanya barulah Rovio mengontrak Sony Picture ImageWorks (SPI) untuk membuat animasi Filmnya. SPI ini bukan abal - abal, merekalah yang membuat salah satu series animasi terkenal Hotel Transylvania.

Sabtu kemarin kami menonton Angry Birds Movie di bioskop yang baru saja launching sehari sebelumnya yaitu tanggal 13 Mei 2016. Sebetulnya film ini ada versi 3Dnya tapi berhubung kami ingin menonton pertunjukkan pagi jadilah nonton versi 2D saja.

Yang paling membedakan Game dengan Film adalah karakter Burung dan Babi masing - masing memiliki anggota tubuh (Limbs) lengkap dari kaki sampai tangan. Dengan adanya anggota tubuh inilah memungkinkan untuk dibikin cerita 90 menit, bahkan rasanya 90 menit masih kurang :) . Mungkin nanti akan ada sequelnya.


Karakter utama film ini adalah Red yang bersahabat dengan Chuck dan Bomb. Chuck memiliki kemampuan istimewa bisa bergerak secepat kilat. Bomb memiliki kemampuan meledakkan diri seperti bom jika sedang marah. Bomb ini karakternya mirip Incredible Hulk. Red mengenal keduanya sewaktu mengikuti pelatihan Anger Management. Red mendapatkan hukuman untuk menjalani pelatihan ini diakibatkan oleh sebuah kesalahan dan dia diputuskan bersalah oleh Hakim.


Selain itu Red juga bersahabat dengan Terence yang berwarna merah sama seperti dirinya akan tetapi memiliki ukuran badan yang besar sekali. Terence ini bisa dikatakan versi besar dari Red. Terence memiliki kelebihan pada tenaganya yang luar biasa. Terence ini suaranya diisi oleh aktor kawakan Sean Penn. Terence ini irit omong, karakternya mengingatkan saya pada karakter Groot (Vin Diesel) di film Guardians of the Galaxy yang juga irit omong. Juga Red berteman dengan Matilda burung betina putih yang juga mentornya Red di kelas ini. Matilda ini memiliki kemampuan mengeluarkan ledakan kentut dengan warna warni pelangi jika sedang marah.

Tokoh antagonis di film ini adalah sama dengan di game, yaitu klan Babi hijau. Seru dan lucu sekali menyaksikan pertempuran antara klan burung melawan klan babi hijau. Pertempuran ini melambangkan sebuah tekad dengan bahan bakar kemarahan untuk mempertahankan dan melindungi the most precious thing. Ketika ada yang mengusulkan agar diikhlaskan saja telur - telur yang telah dicuri oleh para babi dengan dalih telur - telur tersebut bisa diproduksi lagi oleh burung - burung betina, Red menolak usul tersebut dan berkata bahwa telur - telur tersebut adalah anak - anak kita dan barang paling berharga di Bird Island.

Red tidak memiliki kemampuan spesial, kekuatannya hanyalah pada kemarahannya dan keberaniannya dalam mengatakan kebenaran dan jiwa kepemimpinan. Kemarahan tidak selalu negatif, seperti quote dari Aristoteles di atas. Ini adalah tantangan susah buat tim kreatif di film ini untuk menciptakan karakter yang pemarah namun sekaligus lovable. Nah untuk mencari pengisi suaranya juga bikin pusing, karena harus mencari aktor yang karismatik, yang meskipun sedang marah tapi suaranya tetap funny. akhirnya pilihan jatuh pada Jason Sudeikis.

Nah untuk mengetahui lebih dalam tentang film ini silahkan ditonton ya mumpung masih tayang.