Memajukan Budaya Literasi Dengan Gembira Mulai dari Rumah

Kami dan buku sudah seperti sahabat yang tidak terpisahkan. Berawal dari saya dan suami yang gemar membaca sejak dulu kemudian menikah dan menularkan kebiasaan tersebut pada anak-anak. Tak sedikit juga kami mengeluarkan uang demi untuk membeli sebuah atau satu paket buku. Ketika anak-anak lahir, kebiasaan membeli buku untuk diri sendiri mulai berkurang dan beralih membeli buku anak-anak. Rasanya waktu anak-anak masih kecil gak pernah berpikir panjang untuk membelikan mereka buku.

memajukan budaya literasi




Mengenalkan Dunia Literasi Pada Anak


Tidak ada hal yang instan, semua bisa dipelajari dan dilakukan dengan konsisten untuk menghasilkan hal yang diinginkan. Jika kami menginginkan anak-anak suka baca, maka harus diawali dari kami orangtuanya sendiri. Anak kecil itu sifatnya mencontoh atau meniru orang di sekitarnya, terutama orang tua yang sehari-hari berada di dekatnya. 

Ketika Anak-anak sudah sering melihat kami membaca buku, apakah lantas mereka langsung suka membaca? Tentu saja tidak, semua butuh proses. Sebagai orangtua kita tidak dapat menyuruh anak-anak untuk membaca atau menyukai buku kalau tidak diawali dengan mengenalkan buku-buku menarik.

Dari yang awalnya membeli buku-buku hardcover yang memiliki gambar dengan full color hingga buku bacaan yang hanya berisi tulisan saja. Bermula dari membaca nyaring buku cerita, mereka bisa menangkap dan menghafal cerita tersebut dari rangkaian gambar yang ada hingga akhirnya bisa belajar membaca sendiri. Semuanya dilakukan secara bertahap.


Mengajak Ke Toko Buku dan Book Fair


Sejak kecil juga anak-anak terbiasa diajak ke toko buku atau book fair yang diselenggarakan di Jakarta. Saking seringnya ke toko buku, hingga saat ini si sulung sudah SMA dan adiknya duduk di kelas 6 SD gak bisa melewatkan untuk masuk ke toko buku jika pergi ke suatu mal atau pusat perbelanjaan.

Kalau sudah masuk ke toko buku, pastinya ada saja buku yang akan dipilih untuk dibeli. Kami pun tidak bisa menolaknya kalau urusan seperti ini. Dulu mereka suka sekali membeli buku seri Why yaitu buku yang bercerita aneka ilmu namun disajikan dalam bentuk komik berwarna. Tahu sendiri harga buku ini tidak bisa dibilang murah, maka dari itu kami meminta mereka bergantian untuk menentukan judul yang diinginkan. Dari buku-buku ini ternyata banyak sekali manfaatnya ketika mereka sekolah. Banyak hal yang mereka tangkap dan mendapatkan informasi lebih dulu sebelum pembelajaran di sekolah.




Dukungan Dari JNE Asyiknya Nulis Yang Asyik


Dari hobi membaca membuat akhirnya saya terjun ke dunia tulis menulis yaitu blog. Tidak ada bayangan sebelumnya kalau saya berani menulis seperti ini, bahkan dari seorang blogger akhirnya pernah merasakan menjadi content writer di salah satu perusahan kesehatan. Tulisan saya masih jauh dari sempurna, belajar dari teman-teman blogger lain tentang bagaimana mereka bisa menuliskan cerita dengan baik pun saya lakukan dan ikut workshop menulis dan blogging contohnya. Termasuk mengikuti event virtual yang diselenggarakan oleh JNE pada10 Desember 2021 lalu di akun Instagram @JNewsOnline dengan manghadirkan Kang Maman sebagai narasumber bersama Dara Nasution.

nulis asyik



Asyiknya Nulis Yang Asyik adalah tema yang dihadirkan waktu itu dengan tujuan memajukan  literasi baca tulis di Indonesia persembahan dari JNE. Sebelumnya JNE juga sudah meluncurkan Buku Bahagia Bersama yang ditulis oleh Kang Maman bersama Mice sebagai pembuat komik pada buku tersebut. Dari buku ini saya banyak inspirasi tentang berbagi, memberi, dan menyantuni yang bisa membuat kita bahagia. Bahagia itu tidak hanya diukur dari materi tapi bisa banyak hal. Dengan berbagi maka kita juga bisa membuat orang lain bahagia.

Kembali ke talkshow Kang Maman, beliau juga mengatakan bahwa  ketika menghadiri suatu event atau mencari ilmu itu "Datanglah dengan gelas yang kosong untuk mendapatkan isian yang berbeda". Dari event tersebut saya mendapatkan banyak sekali insight untuk diterapkan pada diri sendiri maupun anak-anak ke depannya. Kesalahan yang saya lakukan bisa segera diperbaiki. Namanya juga manusia tidak ada yang sempurna. Penulis yang baik itu ma terus belajar dan mencari perspektif dengan mengumpulkan sudut pandang yang berbeda untuk memperkaya cerita yang akan kita buat nantinya. Dan jangan lupa selalu memiliki modal kerendahan hati dalam menulis, pesan ini pun ditambahkan oleh Dara.


Supaya bisa menulis dengan baik modalnya adalah IQRO yaitu membaca. Kang Maman sendiri ketika akan menulis sebuah buku, paling tidak harus membaca 10 buku sebagai bahan referensi. Penulis yang baik itu pasti adalah pembaca yang baik pula, begitu kata Kang Maman.

Membaca di sini bukan artinya harus dari buku cetak saja lho, zaman sudah mulai berkembang banyak media yang bisa kita jadikan bahan bacaan seperti e-book, facebook, Instagram dan lainnya. Jadi meskipun saya sudah jarang membeli buku cetak, bukan berarti gak pernah membaca kok. Mudah-mudahan ini bukan sebagai suatu pembelaan.

Rasanya kalau talkshow bersama Kang Maman itu gak pernah membosankan, semua hal menarik dan masuk logika. 




Dukungan Kegiatan Literasi Dari Sekolah


Alhamdulillah dari sekolahan pun ada dukungan kegiatan literasi yang rutin dilakukan seperti membaca buku di luar buku pelajaran. 

Belum lama ini, di SD tempat si bungsu sekolah juga diadakan kegiatan literasi membaca biografi Rasulullah SAW lewat buku yang dimiliki masing-masing di rumah. Setelah membaca buku tersebut, murid-murid diminta untuk menuliskan ringkasannya pada sebuah gambar yang dibuat.

kegiatan literasi sekolah
Hasil karya di bungsu



Kalau dipikir-pikir kegiatan yang dilakukan pihak sekolah juga sejalan dengan apa yang sudah dikatakan Kang Maman pada talkshow. Beliau juga selalu menuliskan record atau ringkasan dari buku-buku yang sudah dibacanya.

Saat ini saya sedang membiasakan si bungsu untuk menulis tangan, karena selama ini fokusnya membaca sampai tulisan tangannya kurang bagus. Padahal menurut info yang saya dapatkan sewaktu menghadiri talkshow dengan tema "Membangun Generasi cerdas Indonesia Melalui Kebiasaan Menulis" yang dibawakan oleh Ibu Melly Kiong mengatakan bahwa menulis tangan bisa menumbuhkan kemampuan menulis anak-anak dan dapat mempengaruhi skil belajar mereka serta mempunyai daya ingat yang baik pula.



Dengan menuliskan kembali maka otak kita pun akan berkembang dan mudah mengingat kembali. Pesan Kang Maman juga untuk tidak merusak buku dengan memberikan stabilo pada kalimat-kalimat penting, biarkan saja buku rapi. Biarkan hal menarik itu masuk ke dalam pikiran kita, atau menuliskan kembali poin-poin tersebut pada catatan.

Saya setuju dengan pesannya, karena saya pun selalu menjaga buku seperti barang yang berharga. Makanya dulu kalau ada yang meminjam buku sampai dilipet-lipet agak kurang suka apalagi jika tidak mengembalikannya. 


Perpustakaan Tempat Membaca


Dari buku-buku yang sudah kami beli akhirnya menjadi banyak dan koleksi yang disimpan pada lemari khusus yang kami pesan. Jadi satu lemari besar itu isinya buku semua. Belum lagi rak buku yang kami beli untuk di kamar anak-anak.

Saya selalu bercita-cita ingin mempunyai perpustakaan pribadi di rumah yang penuh dengan buku. Di tempat ini pula bisa digunakan untuk bekerja maupun belajar dilengkapi dengan sofa yang empuk dan karpet tebal. Jadi kami bebas bisa membaca dengan posisi apapun.

Sampai saat ini belum kesampaian sih, karena rumah mungil kami tidak memungkinkan untuk membuat ruangan khusus perpustakaan.

Kang Maman



Bicara soal perpustakaan saya agak tersentil dengan quote lain dari Kang Maman yang berbunyi "Perpustakaan pribadi adalah perpustakaan buku-buku yang pernah dan sudah dibaca".

Benar sekali kami punya berbagai macam buku di rumah tapi belum keseluruhan saya baca juga. Alasannya karena di rumah ada 4 orang yang mempunyai 4 genre buku bacaan yang berbeda. Dua anak laki-laki kami pun punya hobi membaca yang berbeda.

Kang Maman saat ini punya sekitar 10 ribu buku dan jumlah buku yang sudah dibacanya pun mendekati angka tersebut. Wah, saya makin terpacu untuk kembali membaca buku-buku yang belum dibaca nih terutama buku yang saya dapatkan dari hadiah. Boleh juga untuk menambah ilmu saya membaca buku milik anak-anak maupun suami.

Kalau begitu akan saya jadikan resolusi di tahun 2022 untuk punya target membaca buku sebanyak-banyaknya. Dengan membaca maka saya akan memenuhi kepala ini dengan aksara penuh makna sebagai bahan menulis blog. 

Yuk ikut memajukan budaya literasi mulai dari rumah. Teman-teman ada yang mau i bagaimana cara membiasakan anak supaya hobi membaca dan menulis?

Post a Comment

0 Comments