Berapa sih sebenarnya Indeks Massa Tubuh (BMI) yang ideal? Sepulang dari Media Workshop tentang kesehatan, rasa penasaran langsung muncul, dan tanpa menunggu lama, saya cek BMI saya. Hasilnya? 20,1 – syukurnya masih masuk kategori normal, karena angkanya di antara 18,5 hingga 24,9! Tapi, kenapa sih saya tiba-tiba tertarik menghitung BMI? Rupanya, ini ada kaitannya dengan topik menarik yang dibahas dalam workshop tadi, yaitu tentang malnutrisi. Walaupun BMI bukan satu-satunya tolok ukur, tapi tetap penting, lho! Penasaran apa lagi yang saya pelajari soal malnutrisi? Yuk, baca cerita lengkapnya di blog ini!

Malnurisi



Ternyata, malnutrisi bukan hanya dialami oleh mereka yang kurang mampu, tapi juga bisa terjadi pada orang-orang yang berkecukupan. Ini bukan soal kurang pintar, melainkan kurangnya pemahaman akan gizi seimbang. Malnutrisi bisa menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita, dewasa atau anak-anak.

Kolaborasi Nutricia Sarihusada dan Para Ahli di Malnutrition Awareness Week


Selasa, 17 September 2024, menjadi hari yang penuh wawasan saat saya dan teman-teman blogger serta media menghadiri Selasa, 17 September 2024, menjadi hari yang penuh wawasan saat saya dan teman-teman blogger serta media menghadiri Media Workshop bertajuk "Wujudkan Indonesia Sehat dengan Cegah Malnutrisi Sedari Dini"  bertepatan dengan Awareness Malnutrition Week (MAW). Di Indonesia  Awareness Malnutrition Week (MAW) penyelenggaranya adalah Perhimpunan Nutrisi Indonesia (INA) yang didukung oleh Nutricia Sarihusada.

Dipandu oleh dokter ternama, Lula Kamal, yang dengan hangat mengarahkan jalannya acara, workshop ini menghadirkan narasumber ahli yang membagikan pandangan menyeluruh tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan malnutrisi. Tak hanya itu, mereka juga menyoroti pentingnya kerjasama lintas sektor dalam mengurangi angka stunting di Indonesia, sebuah tantangan besar bagi masa depan generasi kita.

Malnutrition Awareness Week



Tiga pakar yang hadir masing-masing membawa perspektif dan pengetahuan yang begitu berharga, membuat kami semakin tersadar akan pentingnya pencegahan malnutrisi sejak dini. Para narasumber yang penuh inspirasi tersebut antara lain:
  • Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS. SpGK(K), Presiden Indonesian Nutrition Association (INA)
  • Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dari Universitas Indonesia
  • Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada.

Apa Itu Malnutrisi dan Apa Penyebabnya?


Malnutrisi mungkin terdengar seperti istilah medis yang rumit, tetapi sebenarnya ini merujuk pada ketidakseimbangan dalam asupan energi dan nutrisi kita sehari-hari. Menurut Prof. Ari Fahrial Syam, malnutrisi tidak hanya terjadi pada mereka yang berat badannya kurang, tetapi juga bisa dialami oleh orang-orang yang tampak gemuk namun ternyata tidak mendapatkan gizi yang seimbang.

Malnutrisi merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Laporan SKI menyatakan bahwa angka nasional prevalensi stunting tahun 2023 sebesar 21,5 persen, hanya turun 0,1 persen dari sebelumnya, sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang tertinggi di Asia Tenggara.
MAW



Penyebab malnutrisi bisa jadi karena asupan makanan yang tidak ADEKUAT—artinya makanan yang kita konsumsi tidak cukup baik, tidak memadai, atau tidak memenuhi kebutuhan tubuh kita dengan baik. Dan jika ada penyebab, tentu saja ada dampaknya. Malnutrisi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, melemahkan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan rasa lelah dan lemah, serta mengganggu fungsi organ tubuh kita.

Dalam diskusi yang menarik, para ahli juga membahas tanda-tanda malnutrisi yang sering kali terlewatkan, seperti:
  • Penurunan berat badan yang tidak terencana
  • Kehilangan nafsu makan
  • Rasa lemah dan cepat lelah
  • Pembengkakan atau penumpukan cairan
  • Berat badan yang kurang atau tidak meningkat sesuai usia

Mengenal Lebih Dekat Malnutrition Awareness Week


Kita semua tahu betapa pentingnya kesehatan, dan salah satu cara kita bisa berkontribusi adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang malnutrisi. Malnutrition Awareness Week pertama kali digagas oleh American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN) pada tahun 2017. Sejak saat itu, pekan istimewa ini telah menjadi ajang global untuk mengingatkan kita akan pentingnya mencegah malnutrisi.

Di Indonesia, kita punya Perhimpunan Nutrisi Indonesia (INA) yang sangat aktif dalam menyebarkan informasi tentang pencegahan malnutrisi melalui Malnutrition Awareness Week atau Pekan Sadar Malnutrisi. Ini adalah langkah penting, karena malnutrisi bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap sepele. Malnutrisi bisa berdampak besar tidak hanya pada kesehatan individu, tetapi juga pada beban ekonomi kita. Pasien yang mengalami malnutrisi seringkali memerlukan perawatan yang lebih lama dan rehabilitasi jangka panjang. Tanda-tanda seperti stunting atau wasting, yang merupakan berat badan yang sangat rendah, adalah sinyal bahwa kita perlu lebih peduli dan bertindak segera.


Nutricia Sarihusada



Dalam acara kali ini, Dr. Ray Wagiu Basrowi memberikan wawasan tentang berbagai teknologi terbaru yang bisa digunakan untuk mendeteksi malnutrisi sejak dini. Mulai dari pengukuran lingkar lengan atas yang portable hingga aplikasi gizi di smartphone yang mampu melakukan skrining gizi secara cepat. Bahkan, perangkat wearable kini bisa memantau status gizi seseorang secara real-time dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

Deteksi dini adalah kunci dalam menangani malnutrisi. Teknologi yang ada sekarang memungkinkan kita untuk memantau status gizi secara lebih akurat dan efisien. Ini bisa membantu intervensi lebih cepat, terutama bagi anak-anak dalam fase kritis pertumbuhan

Dokter Ray menyampaikan bahwa pentingnya kolaborasi untuk mengatasi malnutrisi di Indonesia salah satunya melalui kolaborasi dengan berbagai pihak antara lain pemerintah, sektor swasta, organisasi non-profit dan masyarakat untuk pencegahan malnutrisi.

Nutricia Sarihusada, sebagai perusahaan yang fokus pada nutrisi, berkomitmen untuk terus berkontribusi melalui berbagai produk nutrisi, riset dan inisiatif sosial guna mencegah malnutrisi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Kolaborasi Hexa Helix yang fokus pada kolaborasi akademisi, regulatory, dan industri. Kami sebagai blogger pun bisa menjadi agent of change seperti menyampaikan edukasi atau informasi mengenai gizi yang benar melalui tulisan di blog. Hal ini juga sejalan dengan apa yang direkomendasikan oleh WHO dan FAO bahwa pentingnya integrasi sistem pangan dan orientasi kepada penyediaan makanan bergizi yang berkelanjutan hingga tingkat rumah tangga.

Tantangan Edukasi Gizi dan Malnutrisi


Namun, di balik segala upaya pencegahan, ada tantangan besar dalam hal edukasi tentang gizi dan malnutrisi di Indonesia. Dr. Luciana menggarisbawahi pentingnya konsistensi dalam memberikan edukasi melalui alat seperti Kartu Menuju Sehat (KMS), yang harus dibarengi dengan peran aktif kader kesehatan di masyarakat.


Perhimpunan Nutrisi Indonesia (INA)



“Edukasi tentang gizi seimbang harus terus dilakukan, namun tantangannya adalah bagaimana menjaga konsistensi informasi dan menghadapi arus informasi yang begitu beragam. Masyarakat harus dibekali kemampuan untuk memfilter mana informasi yang benar dan mana yang hanya mitos,”

Selain itu, media workshop seperti yang diselenggarakan oleh Nutricia Sarihusada ini menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengkampanyekan informasi gizi yang tepat dan relevan bagi masyarakat luas. Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi kesehatan, media, dan industri, masalah malnutrisi yang kompleks ini dapat lebih mudah diatasi.


Kolaborasi untuk Masa Depan Indonesia yang Sehat


Malnutrisi adalah masalah multidimensi yang tidak bisa diatasi oleh satu pihak saja. Perusahaan seperti Nutricia Sarihusada berkomitmen memberikan solusi nutrisi terbaik untuk bangsa. Sebagai mitra bukan hanya dalam distribusi produk, tetapi juga dalam edukasi, Nutricia Sarihusada bekerja sama dengan banyak pihak untuk menanggulangi masalah malnutrisi.

“Malnutrisi tidak hanya mempengaruhi kesehatan individu, tetapi juga berdampak besar pada perekonomian. Ini adalah masalah serius yang harus kita atasi bersama"

Melalui pekan seperti Malnutrition Awareness Week, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya gizi yang seimbang dan peran pencegahan malnutrisi sejak dini, sehingga tercipta generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan cerdas.