Setiap tahunnya, Pekan Menyusui Sedunia diperingati pada minggu pertama bulan Agustus (1–7 Agustus). Bagi saya, momen ini selalu menghadirkan perasaan campur aduk: bahagia, bangga, sekaligus sedikit haru. Bahagia karena bisa memberi ASI sesuai kemampuan, bangga karena konsisten, tapi sedikit sedih karena perjalanan menyusui tidak selalu mudah.
Anak pertama, ilmu saya masih terbatas, sehingga meskipun tetap memberi ASI, saya juga menambahkan formula. Sedangkan anak kedua, Alhamdulillah, saya berhasil memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan, dan melanjutkan hingga 2 tahun dengan makanan pendamping. Momen itu terasa begitu istimewa hingga saya sempat memamerkan sertifikat S1 ASIX dari AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia). Keberhasilan ini bukan hanya karena saya tahu teknik menyusui, tetapi juga karena edukasi yang tepat dan teman-teman yang mendukung.
Mengikuti Talkshow Menyusui Nusantara
Bicara soal menyusui, beberapa waktu lalu, saya hadir di Talkshow Pekan Menyusui dalam Budaya Nusantara, yang diadakan oleh Dompet Dhuafa bersama LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma). Acara berlangsung di Sasana Budaya Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Selasa, 26 Agustus 2025.
Masuk ke ruangan itu, saya langsung merasakan suasana hangat. Ada kader dan perwakilan ibu-ibu yang peduli pada dunia menyusui, tenaga medis, serta para narasumber yang berdedikasi. Meskipun saya sudah tidak menyusui, saya senang bisa ikut menyebarkan informasi positif bagi ibu-ibu yang sedang atau akan menyusui bayinya kelak.
Selain sesi talkshow, panitia menyiapkan bilik konselor dan konsultasi ASI, tempat peserta bisa bertanya langsung dan mendapat panduan praktis dari tenaga ahli. Saya melihat peserta antusias memanfaatkan fasilitas ini, bertanya tentang pengalaman menyusui, dan mendapat jawaban yang membangun kepercayaan diri.
Narasumber acara ini luar biasa:
- dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC, FABM
- Ketua AIMI, Ibu Nia Umar, S.Kom, MKM, IBCLC
- Yudi Latif, Ph.D., Dewan Pembina YDDR
- Alfi, pasien dr. Asti
Tema talkshow, “Prioritaskan Menyusui: Membangun Sistem Dukungan Berkelanjutan”, menekankan bahwa menyusui bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga membangun fondasi kesehatan, kecerdasan, dan ikatan emosional anak.
AIMI dan Ibu Nia Umar: Komunitas yang Memberi Dukungan
Saya sudah mengikuti AIMI sejak lama. Komunitas ini berdiri sejak 2007 dan fokus pada praktik menyusui yang benar. Yang saya kagumi, AIMI tidak menerima sponsor yang berkaitan botol, dot, atau susu formula, agar edukasi menyusui tetap murni.
Di acara ini, Ibu Nia Umar menceritakan bagaimana AIMI membantu ibu-ibu agar percaya diri menyusui. Banyak ibu awalnya bingung atau takut gagal, tetapi setelah mendapatkan edukasi dan dukungan komunitas, mereka berhasil. Saya merasa tersentuh karena AIMI membangun komunitas ibu yang saling mendukung, bukan sekadar memberi informasi teori.
Mendengar cerita Ibu Nia Umar adalah pengingat bahwa dukungan sosial sama pentingnya dengan ilmu menyusui. Tanpa komunitas atau teman yang mengerti, perjalanan menyusui bisa terasa berat, meskipun ibu tahu teorinya.
Dokter Asti: Keyakinan, Ilmu, dan Inspirasi
Sesi yang paling membekas adalah ketika dr. Asti Praborini berbagi pengalamannya. Beliau bisa dibilang dokter support ASI garis keras, tapi cara beliau menyampaikan hangat dan menyentuh. Pesan beliau jelas: ibu bisa menyusui jika tahu ilmunya.
Beliau volunteer di LKC Dompet Dhuafa, lembaga non-profit yang fokus pada pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa. LKC didanai melalui Zakat, Infaq, Waqaf, dan donasi sosial. Saat praktik, beliau menaruh Al-Quran di mejanya, sebagai pengingat bahwa menyusui adalah kewajiban sesuai Al-Quran (Surah Al-Baqarah ayat 233), bukan sekadar saran dokter.
Beliau juga menekankan, untuk keberhasilan menyusui, dibutuhkan sistem dukungan yang kuat: keluarga yang mendukung, komunitas sosial, fasilitas kesehatan yang memadai, serta kebijakan di tempat kerja yang memudahkan ibu. Dengan dukungan tersebut, menyusui bukan hal yang mustahil.
Cerita Inspiratif dari Alfi
Acara ini juga menghadirkan pengalaman inspiratif dari Bapak Alfi, karyawan Dompet Dhuafa. Ia membagikan suka duka kelahiran anaknya dengan berat badan rendah. Awalnya, pelayanan kesehatan memaksakan pemberian formula, yang membuat istrinya trauma dan hampir putus asa.
Namun berkat pendampingan dr. Asti, istrinya berhasil menyusui anaknya dari awal yang hampir tidak keluar sama sekali. Cerita ini menegaskan bahwa dukungan yang tepat, ilmu, dan kesabaran bisa mengubah pengalaman menyusui yang sulit menjadi sukses dan bermakna. Saya merasa tersentuh mendengar perjuangan mereka.
Sistem Dukungan Menyusui: Kunci Keberhasilan
Salah satu topik yang membuat saya terinspirasi adalah pentingnya sistem dukungan menyusui. Dalam praktiknya, banyak ibu menghadapi kendala karena lingkungan kurang kondusif.
Beberapa bentuk dukungan yang bisa membantu antara lain:
- Keluarga: Suami, orang tua, atau anggota keluarga lain yang membantu, memberi motivasi, dan menjaga lingkungan agar ibu nyaman menyusui.
- Komunitas dan teman sebaya: Bergabung dengan komunitas seperti AIMI atau kelompok ibu menyusui lokal memberikan informasi, pengalaman, dan motivasi.
- Fasilitas kesehatan: Klinik, posyandu, atau layanan kesehatan gratis seperti LKC Dompet Dhuafa membantu ibu mendapat edukasi dan pendampingan praktis.
- Lingkungan kerja: Kebijakan cuti menyusui, ruang laktasi, dan fleksibilitas waktu memberi ibu kesempatan memberi ASI tanpa stres.
Yang membuat saya terkesan, LKC Dompet Dhuafa berikhtiar untuk terus menebar kebaikan melalui berbagai KolaborAksi, baik dengan komunitas lokal maupun lembaga kesehatan, agar ibu-ibu di berbagai pelosok negeri mendapat dukungan nyata dalam menyusui.
Budaya Lokal: Pelajaran dari Tradisi Baduy
Acara ini juga menyoroti budaya Banten, khususnya tradisi Baduy, dalam praktik menyusui. Tradisi ini menunjukkan bahwa menyusui bisa dilakukan sederhana, murah, tapi tetap berkualitas.
Melalui gerakan Budaya Mengasihi, LKC Dompet Dhuafa mempromosikan menyusui berbasis budaya, dengan kader terlatih yang mendampingi ibu hamil dan menyusui di berbagai titik layanan. Hal ini membuat ibu lebih percaya diri, termotivasi, dan merasa didukung secara sosial.
ASI: Pondasi Kehidupan
Salah satu momen yang paling membekas adalah pantun dari dokter Asti:
Pergi ke pasar membeli pandan
Singgah sebentar di rumah saudara
Ibu Menyusui demi ridho Allah sesuai Quran
Anak pun tumbuh jadi insan berakhlak mulia
Pantun ini sederhana tapi penuh makna. ASI bukan hanya cairan, tetapi “cairan kehidupan”, membawa antibodi, cinta, dan rasa aman bagi bayi. Memberi ASI adalah investasi masa depan anak, membentuk fondasi kesehatan, kecerdasan, dan karakter.
Pesan untuk Ibu Bekerja
Sebagai ibu yang pernah menyusui, saya ingin memberi semangat kepada ibu-ibu pekerja. Menyusui itu menantang, tapi bukan tidak mungkin. Dengan ilmu yang tepat, dukungan keluarga, komunitas, fasilitas kesehatan, dan kebijakan kerja yang mendukung, menyusui bisa dijalani dengan lancar dan menyenangkan.
Setiap tetes ASI adalah investasi jangka panjang bagi bayi tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga ikatan emosional dan karakter anak.
Pekan Menyusui Sedunia: Momentum Dukungan
Pekan Menyusui Sedunia, 1–7 Agustus setiap tahunnya, bukan sekadar seremoni. Ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen mendukung ibu menyusui, dari keluarga, komunitas, hingga lingkungan kerja. Dengan dukungan yang tepat, menyusui bukan lagi tantangan, tetapi pengalaman yang membahagiakan dan bermakna.
Penutup: Percaya Diri dan Konsisten
Bagi ibu-ibu yang sedang menyusui, terutama yang bekerja: saya percaya, kamu bisa! Dengan ilmu, dukungan, dan niat kuat, menyusui bukan beban, tetapi pengalaman indah dan investasi terbaik untuk masa depan anak.
Mari kita bersama-sama membangun sistem dukungan menyusui yang berkelanjutan, agar setiap ibu merasa yakin dan setiap bayi mendapat ASI terbaiknya.
0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya