Tuesday, May 30, 2017

Khasanah Batik Pesona Budaya Tertuang Dalam Buku Batik Pekalongan dari Masa ke Masa


Kain batik dan kain motif batik itu beda. Masih banyak orang salah mengartikan arti dari kain batik. Ternyata tidak semua kain bermotif batik itu bisa disebut dengan kain batik. Batik adalah menggambar atau menuliskan dan menerapkan malam pada kain. Hati-hati saat membeli kain batik, belum tentu itu batik karena bisa jadi itu adalah motif batik dengan teknik printing atau sablon.

Untuk mendukung nilai-nilai budaya dalam kain batik BCA pada acara Forum Kafe BCA VI dengan tema Khasanah Batik Pesona Budaya mengadakan talkshow mengenai batik. Pada Kafe BCA tersebut dihadiri oleh Poppy Savitry (Direktur Edukasi dan Ekonomi Kreatif dari Badan Ekonomi Kreatif - Bekraf), Suryani, Rektor Universitas Pekalongan, Nita Kenzo, Ketua Yayasan Batik Indonesia dan Jahja Setiaatmadja, Direktur BCA.




Menurut Jahja Setiaatmadja batik merupakan nilai budaya yang memberikan nilai jual yang tinggi di pasaran domestik maupun Internasional. Pada tahun 2015 saja nilai ekspor batik meningkat hingga 25,7%. Menurut beliau juga sudah mengenakan batik sejak masih sekolah, di saat anak-anak lain mengenakan seragam merah putih. Jadi secara tidak langsung sudah dikenalkan dan mencintai batik.

Setiap daerah mempunyai ciri batik masing-masing, begitu pula dengan Pekalongan yang dikenal sebagai Kota Batik. Tapi sayangnya saat ini kegiatan membatik sedikit berkurang dan tidak diikuti oleh generasi mudanya. Ini merupakan tantangan bagi anak-anak yang tidak mengikuti jejak orang tuanya. Padahal batik ini sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya asal Indonesia.

Motif-motif batik sebenarnya mempunyai arti sendiri dan tidak dapat digunakan sembarangan. Menurut Poppy Savitry, dulunya batik yang digunakan raja menunjukan suasana hati raja saat itu. Dan dalam pembuatannya pun tidak sembarang orang bisa membuat untuk raja. Apalagi jika rajanya mau naik tahta, pembatiknya harus berpuasa terlebih dahulu. Saya pun baru tahu kalau suatu motif batik  tertentu  tidak dapat digunakan dalam berbagai aktivitas.

Pada kesempatan itu juga sekaligus peluncuran buku Batik Pekalongan Dari Masa ke Masa hasil karya Budi Mulyawan. Tidak hanya itu, BCA juga ikut mendukung dan meningkatkan daya saing pembatik di Indonesia agar bisa bersaing di pasar Internasional. Itu dibuktikan dengan mendukung Kampung Batik Gemah Sumilir, Wiradesa, Pekalongan dan bekerjasama dengan Batik Hoko yang hasilnya digunakan sebagai seragam karyawan BCA di seluruh Indonesia.

Batik di Pekalongan sudah dikenal sejak abad 18, melalui buku  tersebut diharapkan masyarakat lebih mengenal tentang batik Pekalongan dan menjadi inspirasi Teknik membatik Indonesia.

Saat ini di Indoneisa hanya ada satu universitas yang membahas khusus tentang batik yaitu Universitas Pekalongan. Menurut Bapak Suryani, Rektor Universitas Pekalongan, saat ini Batik Pekalongan sedang menjadi primadona di masyarakat, sehingga penting juga menyampaikan materi dalam membatik pada mahasiswanya. Sayangnya hanya sedikit mahasiswa yang mengambil jurusan ini, kebanyakan mahasiswa asing yang tertarik mengambil mata kuliah ini.



Di akhir acara Nita Kenzo yang juga sebagai designer batik menampilkan karyanya melalui fashion show. Uniknya Nita berfokus membuat pakaian dengan bahan batik indigo yaitu pewarna biru alami yang dihasilkan dari tanaman Indogofera Tinctoria. Tanaman ini digunakan sebagai zat pewarna pakaian. Warna birunya ini sendiri dihasilkan dari daun indigo yang direndam selama semalaman, setelah terbentuk lapisan di atas yang berwarna hijau atau biru kemudia cairan tersebut direbus dan dijemur hingga kering.

Jadi, menurut Nita sebuah pakaian atau kain yang dinamakan indogo itu harus murni menggunakan pewarna alami. Jika sedikit saja menggunakan pewarna buatan atau berbahan kimia maka sudah tidak dapat dikatakan lagi indigo. 



Sebagai penyuka warna biru, sepertinya saya mulai tertarik membeli batik indigo ini. Apalagi saya lebih menyukai batik dengan warna-warna yang cerah. Dari desain pakaian yang ditampilkan terlihat kalau batik pun bisa terlihat bagus dan elegan dikenakan dalam berbagai aktivitas. Tidak seperti dulu jika orang menggunakan batik identic dengan resepsi undangan.


10 comments:

  1. Batik warna cerah biasanya adalah batik pesisir seperti dari Cirebon dan Madura. Pasti suka deh.

    ReplyDelete
  2. Batik sekarang makin variatif ya mbk,warnanyapun cerah2

    ReplyDelete
  3. Baru tahu saya kalo ada universitas yang membahas tentang batik biasanya sih dulu di sekolah hanya di sisipin pas pelajaran kebudayaan..

    ReplyDelete
  4. wah .. keren mbak ada buku batik Pekalongan..
    pasti bagus nih bukunya, jadi pengen pinjam

    ReplyDelete
  5. Apik bgt batik..aku sukaa banget mba
    Kalau beli kado buat suami juga seneng beliin dia batik hehe
    Skrg batik lebih casual ya mbaa

    ReplyDelete
  6. Tak akan pernah habis cerita kalok kita membahas tentang batik ini rasanya ya, Lid. Dulu aku pikir batik cuma punya orang Jawa hahaha. Ternyata di daerah selain Jawa pun punya batik khas mereka. Cantik-cantik.

    ReplyDelete
  7. Oooh .. Kalau bukan alami birunya bukan indigo yah.. Noted

    ReplyDelete
  8. wah, baru tau kalau Kain batik dan kain motif batik itu beda

    ReplyDelete
  9. bangga jadi salah satu anak pekalongan, :)

    ReplyDelete
  10. bikin batik susah juga ya..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...