Di Tengah Dunia yang Tak Pasti, Pemberdayaan Menjadi Cara Bertahan

Ada momen ketika saya merasa dunia berjalan terlalu cepat dipenuhi kabar tentang krisis, ketidakpastian, dan rasa cemas akan masa depan. Di tengah hiruk pikuk itu, saya justru menemukan sebuah ruang yang membuat saya berhenti sejenak dan berpikir: mungkin yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, tapi proses yang memberdayakan. Ruang itu saya temui saat menghadiri Indonesia Humanitarian Summit 2025 dengan tema “EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL”, yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV, pada Kamis, 15 Januari 2026, di studio Nusantara TV.




Acara ini bukan sekadar forum diskusi. Ia menjadi pengingat personal bagi saya bahwa di tengah dunia yang terasa semakin tidak pasti, pemberdayaan bisa menjadi salah satu cara paling masuk akal untuk bertahan dan tumbuh bersama.

Ketika Filantropi Tidak Lagi Sekadar Memberi


Indonesia Humanitarian Summit 2025 menghadirkan satu pesan utama: filantropi hari ini tidak cukup berhenti pada bantuan jangka pendek. Tantangan sosial yang semakin kompleks menuntut pendekatan yang lebih dalam, lebih berkelanjutan, dan lebih berpihak pada kemandirian.

Dompet Dhuafa selama ini dikenal dengan pendekatan pemberdayaannya bagaimana zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya disalurkan, tetapi dikelola agar mampu mengubah hidup. Dari mustahik yang menerima manfaat, hingga suatu hari mampu berdiri sejajar sebagai muzakki yang kembali memberi. Sebuah siklus kebaikan yang tidak instan, tapi nyata.

Dua Diskusi, Satu Arah Perubahan


Dalam acara ini, terdapat dua sesi diskusi panel yang membuka banyak perspektif.
Panel diskusi pertama mengangkat tema “Lembaga Filantropi dalam Pemberdayaan Berdampak Selaras dengan Asta Cita.” Diskusi ini menyoroti bagaimana lembaga filantropi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai mitra perubahan. Dari isu ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan masyarakat akar rumput, filantropi ditantang untuk hadir dengan dampak yang terukur dan berkelanjutan.




Panel diskusi kedua bertajuk “Local Leader: Young Empowerment, Young Philanthropist.” Di sini, saya menangkap satu benang merah penting: perubahan sering kali dimulai dari cerita-cerita lokal, dari mereka yang berani memulai meski dengan keterbatasan.

Salah satu cerita yang paling membekas datang dari Ibu Sally Giovanny, Owner Batik Trusmi. Ia berbagi perjalanan usahanya yang jauh dari kata instan. Berawal dari berjualan kain kafan, perlahan usahanya berkembang hingga masuk ke dunia batik, membangun ekosistem pengrajin, dan akhirnya melangkah ke panggung New York Fashion Week. Sebuah pengingat bahwa pemberdayaan ekonomi bukan hanya tentang produk, tapi tentang manusia, proses, dan keberanian untuk terus tumbuh.




Hadir pula Bapak Sandiaga Salahuddin Uno, entrepreneur yang konsisten menekankan pentingnya kewirausahaan berbasis dampak. Bahwa usaha yang baik bukan hanya yang menghasilkan keuntungan, tetapi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memberi nilai bagi masyarakat sekitar.

Pemberdayaan yang Bisa Dilihat dan Dirasakan


Tidak hanya lewat diskusi, Indonesia Humanitarian Summit 2025 juga menghadirkan pameran program dan produk pemberdayaan Dompet Dhuafa. Area pameran ini dikemas dengan cara yang informatif, edukatif, dan terasa fun. Ada permainan interaktif, cerita visual tentang program-program pemberdayaan, hingga ruang bagi pengunjung untuk benar-benar memahami ke mana dana kebaikan disalurkan.
Pengunjung juga bisa berpartisipasi langsung mulai dari berdonasi, hingga mengikuti cek kesehatan. Semua terasa inklusif, membumi, dan tidak menggurui. Filantropi dihadirkan sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika Keterbatasan Berubah Menjadi Harmoni


Salah satu momen paling menggetarkan dalam acara ini adalah pertunjukan Tari Saman yang dibawakan oleh anak-anak spesial. Mereka yang tidak bisa mendengar dan berbicara, tampil dengan harmoni gerak yang begitu indah. Dengan bantuan pengarah tari di depan mereka, setiap gerakan tersusun rapi, kompak, dan penuh makna.

Di momen itu, saya kembali diingatkan: di balik setiap keterbatasan, selalu ada potensi. Anak-anak spesial ini tidak meminta dikasihani. Mereka hanya butuh ruang, kesempatan, dan kepercayaan. Dan ketika ruang itu diberikan, yang muncul bukan kekurangan melainkan keindahan.
Empowerment to the Next Level

Tema “EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL” terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Pemberdayaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Di tengah tekanan ekonomi, berkurangnya lapangan kerja, dan meningkatnya kerentanan sosial, pendekatan yang berfokus pada kemandirian menjadi semakin penting.

Dompet Dhuafa melalui berbagai programnya menunjukkan bahwa perubahan memang tidak selalu cepat, tapi bisa konsisten. Dari desa ke kota, dari pendidikan ke kesehatan, dari ekonomi ke sosial—semua dirajut dalam satu tujuan: memanusiakan manusia.

Sebuah Ruang untuk Terus Peduli


Indonesia Humanitarian Summit 2025 bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah ruang bertemu—antara ide dan praktik, antara empati dan aksi. Sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, masih banyak orang dan lembaga yang memilih untuk peduli, bekerja senyap, dan menyiapkan masa depan yang lebih bermartabat.




Dan mungkin, di sanalah letak harapan itu tumbuh. Saat pemberdayaan tidak lagi sekadar kata, tapi benar-benar dijalani dari mustahik yang berdaya, hingga menjadi muzakki yang kembali menguatkan sesamanya.

Bagi saya pribadi, hadir di Indonesia Humanitarian Summit 2025 menjadi semacam jeda untuk merenung. Di tengah rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, acara ini menghadirkan perspektif bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ia bisa berawal dari konsistensi, kolaborasi, dan keberanian untuk memikirkan dampak jangka panjang.

Apa yang dilakukan Dompet Dhuafa selama ini menunjukkan bahwa filantropi memiliki wajah yang sangat manusiawi. Ia tidak berdiri di atas menara gading, tetapi hadir di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan, dan tumbuh bersama mereka yang didampingi. Pemberdayaan menjadi proses yang berjalan dua arah bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar dan saling menguatkan.

Di tengah dunia yang terasa rapuh oleh ketidakpastian, ruang-ruang seperti ini terasa semakin penting. Ruang yang tidak hanya menawarkan empati, tetapi juga arah. Ruang yang mengingatkan bahwa setiap orang punya peran, sekecil apa pun, dalam membangun masa depan yang lebih adil dan bermartabat.
Indonesia Humanitarian Summit 2025 akhirnya meninggalkan satu kesan kuat bagi saya: bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk dirawat, dijaga, dan diwujudkan melalui aksi nyata. Dan pemberdayaan dengan segala proses dan tantangannya adalah salah satu cara paling jujur untuk memastikan harapan itu tetap hidup.


Post a Comment

0 Comments