Kamis sore itu, saya duduk di tempat yang nyaman. Di Winners Backyard, Pondok Pinang, obrolan mengalir ringan, tawa sesekali pecah, dan segelas minuman di depan saya perlahan kehilangan dinginnya. Acara bertajuk Harmoni di Ramadan: Cerita, Doa, dan Harapan dari Sumatra terdengar hangat sejak awal. Namun semakin sore bergeser menuju malam, saya sadar: harmoni yang dirajut di ruang ini bukan hanya tentang pertemuan dan silaturahmi, melainkan tentang kesadaran yang pelan-pelan tumbuh—bahwa ketika saya mulai bersiap menyambut Ramadan dengan tenang, ada saudara-saudara kita di Sumatra yang masih menyambutnya dari balik tenda.
Saya hadir di acara itu sebagai undangan. Pulang dengan isi kepala dan hati yang jauh lebih penuh. Cerita tentang rumah sementara, tenda pengungsian, dan keluarga yang bertahan di tengah ketidakpastian membuat Ramadan terasa berbeda. Tidak lagi sekadar tentang jadwal imsak dan berbuka, tapi tentang bagaimana bulan suci ini datang dengan pengalaman yang tidak sama bagi semua orang.
Silaturahmi yang Hangat, Kenyataan yang Tidak Selalu Nyaman
Suasana sore itu akrab dan bersahabat. Silaturahmi berjalan seperti yang sering kita kenal: duduk berdampingan, saling menyapa, mendengarkan sambutan dengan kepala mengangguk pelan. Winners Backyard terasa hangat, baik secara suasana maupun rasa kebersamaan. Namun justru di ruang yang nyaman itu, kata “rumah” berulang kali muncul dengan makna yang berbeda.
Bukan rumah tempat kita pulang setiap hari, melainkan rumah yang masih berupa rencana. Rumah yang sedang diupayakan agar layak ditempati sebelum Ramadan benar-benar tiba. Donasi tidak disampaikan sebagai ajakan heroik atau jargon besar. Ia hadir lewat cerita yang jujur: tentang keluarga yang sudah berbulan-bulan tinggal di tenda, tentang anak-anak yang belajar tidur lebih cepat karena gelap datang lebih awal, dan tentang orang tua yang harus tetap kuat di ruang yang bahkan sulit disebut ruang.
Di titik itu, saya merasa sedikit canggung dengan kenyamanan sendiri. Ramadan yang selama ini saya bayangkan dengan meja makan, rutinitas ibadah, dan rumah yang menunggu, ternyata tidak berlaku untuk semua orang. Ada yang menyambutnya dengan tikar tipis dan atap darurat. Dan sore itu, tanpa banyak ceramah, saya diingatkan bahwa rumah adalah kemewahan yang sering kita anggap biasa—sampai suatu hari ia benar-benar tidak ada.
Dari Jakarta yang Aman ke Sumatra yang Masih Bertahan
Jakarta sore itu terasa ramah. Di luar venue, hiruk-pikuk kota berjalan seperti biasa. Namun cerita-cerita dari Sumatra menghadirkan kontras yang jujur. Tentang tidur di tenda bersama anak-anak dan lansia. Tentang hujan yang tidak bisa dimarahi. Tentang pagi yang datang tanpa kepastian.
Cerita-cerita itu tidak disampaikan dengan nada dramatis. Justru karena itulah ia terasa menempel. Bertahan bukan digambarkan sebagai pilihan heroik, melainkan kewajiban. Mereka tidak sedang mengejar kenyamanan, hanya ingin kembali ke kondisi yang layak disebut hidup normal. Di ruangan yang aman itu, saya seperti diajak berpindah tempat tanpa benar-benar pergi—dari Jakarta yang hangat menuju Sumatra yang masih belajar berdiri setelah jatuh berkali-kali.
Saya menangkap satu benang merah: ketangguhan tidak selalu tampak gagah. Kadang ia hadir dalam bentuk kesabaran yang diam-diam melelahkan.
Melukis Tempat Pensil, Merawat Harapan Anak-Anak Sumatra
Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika diperkenalkan kegiatan melukis tempat pensil. Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan ruang aman bagi anak-anak di Sumatra untuk mengekspresikan cerita dan harapan mereka lewat warna. Tempat pensil yang dilukis dengan beragam motif dan imajinasi itu nantinya akan dibagikan kepada mereka—anak-anak yang hidup di tengah keterbatasan, namun tetap menyimpan semangat belajar yang besar.
Saya membayangkan tangan-tangan kecil memegang kuas, memilih warna, lalu menghias tempat pensil sederhana menjadi benda yang terasa milik mereka sendiri. Di sana ada cerita tentang rumah, tentang keluarga, tentang hari-hari sekolah yang tetap ingin mereka jalani meski dalam keadaan serba terbatas. Menjelang Ramadan, aktivitas kecil ini menjadi pengingat bagi saya bahwa harapan bisa tumbuh dari hal-hal yang sederhana.
Di momen itu saya sadar, bantuan tidak selalu harus berbentuk besar atau megah. Kadang, ia hadir lewat perhatian kecil yang tepat sasaran—memberi ruang bagi anak-anak untuk merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Sebuah tempat pensil mungkin tampak sepele, tapi di tangan mereka, ia bisa menjadi simbol bahwa ada yang peduli dan ingin mereka terus melangkah.
Tausiyah Jelang Ramadan yang Menyentuh Tanpa Menggurui
Menjelang akhir acara, Ustadz Maulana menyampaikan tausiyah. Singkat, tenang, dan mengena. Tentang Ramadan sebagai bulan empati. Tentang ibadah yang tidak berhenti di sajadah, tapi bergerak ke luar, menyentuh sesama. Bahwa doa dan kepedulian seharusnya berjalan beriringan.
Saya mendengarkannya dalam diam. Mungkin karena saya tahu, pesan itu sedang bekerja di dalam diri saya. Mengingatkan bahwa menunda kebaikan sering terasa masuk akal bagi kita, tapi tidak bagi mereka yang masih bertahan di tenda. Bagi para penyintas, satu malam tambahan bukan sekadar waktu, melainkan akumulasi lelah dan harap yang terus diuji.
Bergerak Sekarang, Sebelum Ramadan Benar-Benar Tiba
Semua cerita sore itu bermuara pada satu hal: bergerak sekarang. Zakat dan donasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan jembatan. Rumah sementara bukan soal sempurna, tapi soal cukup dan tepat waktu. Menunggu momen yang “lebih pas” sering kali membuat kita lupa bahwa waktu berjalan berbeda bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Saya pulang dengan satu keyakinan baru. Ramadan kali ini, saya ingin lebih sadar. Lebih peka. Dan jika tulisan ini sampai ke kamu, anggap saja ia bukan ajakan besar, melainkan undangan kecil—untuk ikut mengambil peran bersama Dompet Dhuafa membantu para penyintas di Sumatra menyambut Ramadan dengan lebih bermartabat.
Karena Ramadan selalu tentang berbagi. Dan mungkin, kali ini, tentang memastikan lebih banyak orang bisa berbagi dari dalam rumahbukan dari balik tenda.






0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya