Saat membaca postingan Mas Dewo tentang S3 : Senyum, Salam, Sapa,  aku langsung senyum-senyum sendiri, jadi ada ide menulis :) .
Saling menyapa dan tersenyum terhadap sesama mudah sebetulnya ya tapi harus iklas dan inisiatif dari diri sendiri jadi terlihat tulus.
gambar diambil dari sini

Sejak mewabah  Facebook apalagi bisa diakses dari gadget pipih hitam bernama buah itu juga bikin orang lupa pd sekelilingnya (pinjam istilah yang ditulis oleh Bunda Lily). Ini ada benarnya juga loh. Yang jauh akan terasa dekat karena kita bisa mengobrol dan bertegur sapa melalui fasilitas itu. Tapi bagi orang disekelilingnya akan terasa jauh karena terkadang kita dianggap tidak ada, beberapa orang sibuk dengan gadgetnya.

Belum lama ini kita masuk ke toko mainan langganan yang lokasinya dekat dengan rumah. Saat masuk aku sudah senyum dan menyapa sambil menanyakan barang yang aku cari. Tapi si mbaknya itu malah asyik dengan gadgetnya sampai aku tanya 3 kali baru dia menyimpan gadgetnya tersebut. Disini tidak ada lagi istilah pembeli itu raja. Apalagi sang pemilik tokonya disaat yang sama datang juga dan langsung bilang "Kakak, udah lama yang gak kesini, beli mainannya ditempat lain ya?" walah itu hak kita bukan untuk berbelanja dimanapun yang penting tidak merugikan siapapun.

Tulisan ini sekedar pengingat bagiku, agar lebih perhatian terhadap sekeliling apalagi jika sedang memegang gadget, aku yakin sahabat-sahabatku disini tidak seperti itu. 

ps: mulai saat ini aku akan mereply komen-komen yang masuk kesini loh :) maaf kalau selama ini tidak direply langsung. Tapi blognya juga masih di renovasi fasilitas replynya belum keluar :)