Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga

Friday, September 14, 2018
Ada perumpamaan yang mengatakan bahwa seorang ibu diibaratkan sebagai menteri keuangan di dalam keluarga, sedangkan suami sebagai menteri pekerjaannya.




Tugas menteri keuangan tentu saja harus bisa mengelola keuangan keluarga dengan baik. Sayang sekali tingkat literasi keuangan perempuan di Indonesia masih rendah dibandingkan laki-laki yaitu sebesar 25%. 

Untuk itu Visa sebagai perusahaan teknologi pembayaran global terdepan meluncurkan Kampanye Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak supaya para ibu di Indonesia bisa mengelola keuangan rumah  tangga mereka dengan baik.


Allhamdulillah saya berkesempatan mengikuti workshop literasi di RPTRA Kopi Gandaria, Pekayon, Jakarta Timur pada hari Senin, 10 September 2018 bersama dengan ibu-ibu PKK dari Kelurahan Pekayon. 
Kali ini Visa bekerjasama dengan OJK dan BI melanjutkan kesuksesan kampanye yang sama dengan tujuan mengasah lebih banyak lagi perempuan khususnya para ibu dengan mengajarkan pengelolaan keuangan yang bijak dan mendorong mereka untuk berbagi pengetahuan tersebut pada anggota keluarga dan lingkungan - Riko Abdurrahman (Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia).

Bijak Kelola Keuangan 

Siapa yang mau punya dompet yang selalu awet muda? Syaratnya harus bisa mengelola keuangan kata mbak Prita Hapsari Ghozie.



Ada 3 langkah yang harus dilakukan supaya punya keuangan yang ideal yaitu :

Financial Check Up

Di dalam keluarga ternyata wajib juga mencatat pemasukan dan pengeluaran uang. Pernah gak mengalami setelah mengambil uang di ATM tau-tau kok uangnya sudah habis begitu saja dan lupa sudah digunakan untuk keperluan apa saja.

Saya sendiri juga masih suka melupakan pencatatan keuangan kok, tapi mulai sekarang harus lebih disiplin lagi demi kesejahteraan keluarga. Kalau semua pengeluaran dan pemasukan uang dicatat dijamin deh dompetnya bisa selalu awet muda.

Mengelola Arus Kas

Sebelum mengelola uang sebaiknya kita mengetahui dulu kondisi kesehatan dompet atau keuangan. Kalau dalam keadaan sakit sebaiknya diobati dulu atau diperbaiki terlebih dahulu keuangan agar tiap bulannya makin sehat. Karena pengelolaan dompet yang sakit dan sehat pastinya berbeda.

Pengelolaan arus kas bagi mereka yang memiliki penghasilan bulanan dan harian juga pastinya berbeda. Berapa pun penghasilan kita perlu mengendalikan pengeluaran.

Merencanakan Keuangan

Nah, sebelum Mbak Prita menyampaikan materinya, kami dibagikan selembar kertas untuk mengisi ilustrasi pemasukan dan pengeluaran yang ideal.

Tenang saja kalau tidak tahu, kita bisa belajar sama-sama supaya bisa mengelola keuangan dengan  baik.  Supaya gak bingung ada rumus yang diberikan oleh Mbak Prita dalam mengatur keuangan seperti berikut ini :
  • Sedekah 5%
  • Cicilan utang 30%
  • Dana darurat 10%
  • Biaya hidup 30%
  • Gaya hidup 10%
  • Investasi 15%

Keuangan yang sehat itu artinya biaya hidup harus lebih kecil dari pemasukan setiap bulannya.

Sekarang kita bahas ya satu-satu mulai dari sedekah sudah termasuk zakat atau amal ya. Sebagai umat muslim tentunya di dalam harta kita ada harta orang-orang yang membutuhkan. Untuk itu ada pembagian sedekah yang perlu diketahui dan wajib dijalankan sesuai dengan aturan tertentu.

Siapa bilang kita tidak boleh punya hutang? boleh-boleh aja kok punya hutang atau cicilan asalkan bukan untuk biaya hidup seperti makan, bayar listrik dan lainnya. Jika hal ini terjadi maka akan berbahaya bisa-bisa gali lubang tutup lubang setiap bulannya. Punya hutang cicilan rumah atau kendaraan masih diperbolehkan karena ini bukan sebagai biaya hidup apalagi kalau mobilnya digunakan sebagai usaha. Yang perlu diperhatikan dalam hal hutang adalah tidak lebih dari 30% jika ingin dikatakan mempunyai keuangan yang sehat.

Dana darurat itu harus dimiliki besarnya 3 kali biaya hidup tiap bulannya. Dana tersebut bisa digunakan jika sewaktu-waktu tidak ada pemasukan. Dana itulah yang bisa digunakan selagi kita mencari biaya hidup ke depannya. Kalau sakit apakah boleh menggunakan dana darurat? sebaiknya sih sudah punya asuransi kesehatan atau BPJS sehingga tidak menganggu dan darurat yang ada.

Biaya hidup yang ideal itu harus lebih kecil dari pemasukan setiap bulannya supaya keuangan bisa selalu sehat. Jangan sampai deh biaya hidup lebih besar dari pemasukan, bisa-bisa akan berhutang kemana-man.

Gaya hidup, ingat ya ibu-ibu jangan sampai belanja bulanan dengan cara berhutang. Kalau pun mau menggunakan kartu kredit pastikan ada dananya untuk membayar kebutuhan bulanan tersebut. Jadi, kartu kredit hanya untuk memudahkan pembayaran saja. Tidak mudah tergiur dengan penawaran menarik nol persen. Kita harus punya prioritas apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau tidak. Kalau punya keinginan untuk membeli sesuatu sebaiknya menabung terlebih dahulu.

Investasi, Jangan lupa untuk mempunyai assurance yaitu jaminan hidup agar tetap baik meskipun kena musibah dengan menyediakan dana darurat dan asuransi.

Kalau pengeluaran melebihi pemasukan harus dicari cara bagaimana cara menambah penghasilan dengan cara bekerja aktif, menjadi investor atau womenpreneur.



Don't save what is left after spending but spend what is left after savings - Wareen Buffet


Womenpreneur Gina Adityaligina


Ngomongin womenpreneur ada mbak Gina juga loh ikut hadir, beliau adalah pemilik Gammara Leather yang ikut memberikan tips pada ibu-ibu cara menjadi womenpreneur supaya bisa menambah penghasilan keluarga.



Mendengar Gammara  Leather sepertinya saya familiar sekali, ternyata ini adalah tempat bekerjanya Mbak Lidya yang baru di Bandung. Pantas saja seperti pernah mendengar.

Kembali ke Gammara Leather ya, semua produknya dibuat di Bandung dengan menggunakan nama-nama daerah di Indonesia agar lebih dikenal oleh orang luar negeri. Produk Gammara sendiri sudah diekspor ke Perancis, Jepang, Belanda, Arab, dan Taiwan.

Mbak Gina memberikan tiga langkah penting dalam berusaha yaitu :


  1. Goal. Menyusun dan membangun sasaran dengan perhitungan yang matang.
  2. Financial Management. Walaupun itu usaha milik kita sendiri jangan segan untuk menggaji diri sendiri. sebaiknya dalam melakukan investasi dilakukan dengan cara menabung terlebih dahulu bukan berhutang karena belum ketahuan usaha kita berjalan seperti apa.
  3. Afirmasi positif dan visualisasi dengan membayangkan kesuksesan akan diraih.

Awal mulanya Mbak Gina terjun dibisnis ini adalah karena butuh, jadilah beliau mencoba berjualan produk-produk tersebut. Ternyata bisnisnya pun turunan dari ibunya yang suka berjualan. Berawal dari butuh lama-lama menjadi bisnis yang menjanjikan ya dan bisa menambah penghasilan.



Senang sekali mendapatkan banyak informasi keuangan dari 2 wanita hebat ini. Allhamdulillah saya mendapatkan buku dari Mbak Prita, semoga saya juga bisa menjadi menteri keuangan yang bijak untuk keluarga.

32 comments

  1. Memang mengatur keuangan itu seperti belajar matematika saat sekolah dulu. Kalau ketemu caranya dan hasilnya benar, maka senang, tapi kalau terburu-buru menjawab jadinya salah.
    Ini pelajaran seumur hidup juga.

    ReplyDelete
  2. Pas banget ketemu tulisan ini, saat lagi galau mikir 'aku boros banget ya, gmn ntar kalo jadi istri. Hihi. Makasih ya mbaaa artikelnya membantuu

    ReplyDelete
  3. Senangnya yg bisa ikutan acara kayak gini. Jadi punya ilmu yg banyak buat ngatur keuangan rumah tangga.

    ReplyDelete
  4. Iya mba, perempuan itu kalo gak tahan goda dengan keinginannya, bahaya kalo jadi menteri keuangan. Ntar bisa tekor, pusing deh suaminya, eh menteri keuangannya juga ya.

    ReplyDelete
  5. Saya nih paling suka failed atur keuangan.. Hehe

    ReplyDelete
  6. Masih punya pe-er ngumpulin dana darurat karena belum sesuai target, huhuhuuu.. *malah curhat* :)))

    ReplyDelete
  7. Aku lagi berjuang buat nambahin dana darurat nih. Karena membernya nambah satu, jadi harus dihitung ulang >.<

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah bisa ikut acara ini dan bisa membagikan ilmu yg di dapat via post ini. Sungguh bermanfaat.. Trims ya mba..

    ReplyDelete
  9. Nah gaya hidup tuh yangs eringkali jadi godaan buat pengeluaran lebih banyak ya mba :(. Makanya penting banget berusaha agar kita nggak hanyut dengan gaya hidup yang wah tapi dana pas pasan. Makasih sudah mengingatkan ya mba :) Jadi tercerahkan

    ReplyDelete
  10. Sy nih susah disiplin nyatat pengeluaran huhu. Tp tiap bln insyaa Allah ada yg dialokasikan untuk investasi

    ReplyDelete
  11. Usaha milik sendiri tapi menggaji diri sendiri, itu langkah yang sering terlupakan mba... padahal kita berhak ya

    ReplyDelete
  12. Pencatatan keuangan ini suka kelupaan.simple tp sulit yaa. Pe-er nih!

    ReplyDelete
  13. Wah, untuk point Gaya Hidup saya pernah baca juga, katanya penuhi (beli) disaat kita butuh bukan disaat kita mau. Hehehe kadang ada benernya juga ya mba, kadang kita laper mata doang, ah dasar emak-emak. Thanks infonya mba.

    ReplyDelete
  14. Oo.. Begitu cara mengelola. Terimakasih infonya 😊

    ReplyDelete
  15. Lidya termasuk yang 25% atau 75%? Hihihi. Saya masih suka pusing kalau mengatur keuangan rumah tangga. Masih harus banyak belajar dari mbak Prita :)

    ReplyDelete
  16. Saya termasuk PR nih untuk jadi Manager keuangan keluarga.. catat arus kas dan gaya hidup itu masih godaann bangettt hehheh

    ReplyDelete
  17. tiap dengar Mbak Prita bicara tentang keuangan keluarga, langsung terbayang PR kudu ini itu supaya makin jelas keuangannya dan ga terlilit utang.

    ReplyDelete
  18. Acara bergizi yang sayang untuk dilewatkan, ak harus belajar banyak soal keuangan yang baik

    ReplyDelete
  19. Kitacmemang harus bijak kelola keuangan supaya keuangan rumah tangga berjalan lancar ya

    ReplyDelete
  20. Ihh aku banget setelah ngambil uang di ATM uangnya tau-tau kok sudah habis begitu saja. Kurang rajin nyatet

    ReplyDelete
  21. Atur keuangan itu gampang-gampang susah ya mba, tapi yang pasti harus disiplin biar cash flow lancar dan ngg besar pasak daripada tiang hehe

    ReplyDelete
  22. aku sama suami anti ngutang termasuk kredit2 di bank juga hahah, dan beneran ampuh loh nyenengin ga beban2 gitu. oiya itu dana darurat mmg harus disiapkan juga ya

    ReplyDelete
  23. Dana Darurat itu penting pisan ya, Mbak. Sayapun kalau sedang traveling atau mudik, pasti menyediakan dana teaveling yang lebih besar. Tks sharingnya Mbak, kapan kita meeting sesama menteri keuangan niy?

    ReplyDelete
  24. Nah, soal pencatatan belanja keluarga nih aku yang enggak tertib. Harus lebih dirapiin lagi.

    ReplyDelete
  25. Kapan2 mau ikut baca bukunya ya mbaa, pinjeem :*

    ReplyDelete
  26. Mba Lidya beruntung bgt bisa ikut seminar macam gini. Kapan2 klo ada info lagi ajak aku yaaa

    ReplyDelete
  27. Yeaaay dapet bukunya juga! Btw, itu di rptra andaraia, ternyata deket dari rumahku hahahhahahhahahaha kesel :D

    ReplyDelete
  28. Horeeee dapat bukunya.
    Emang kalau ikut WS mbak Prita tu rasanya kurang waktunya ya mbak, ilmunya bergizi semua gtu :D
    Apalagi ada sharing juga dari womanpreneur makin ok acaranya.

    ReplyDelete
  29. Pasti langsung dibaca bukunya di rumah.
    Secara ilmunya sudah dapet barusan...dan mantuuulll...
    Pingin juga pintar mengatur keuangan keluarga.

    ReplyDelete
  30. Gaya hidup tuh kadang suka mengacaukan simpenan hahaha

    ReplyDelete
  31. Senang ya mbak bisa ikutan acara bermanfaat ini. Apalagi narsumnya sekelas mbak Prieta Gozhi. Semoga next saya bisa ikutan juga.

    ReplyDelete
  32. Halo mb Lydia :) Wah, aku pun jadi melek nih langsung buru2 bongkar catatan anggaran rumah tangga :) Ternyata kudu dibenahi lagi ya jgn kebanyakan biaya gaya hidup, tapiiii gmn kalo ada sale ah wkwkwkwk. Tahan napas dulu kali ya buat kepentingan prioritas aja.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...