Ada perumpamaan yang mengatakan bahwa seorang ibu diibaratkan sebagai menteri keuangan di dalam keluarga, sedangkan suami sebagai menteri pekerjaannya.




Tugas menteri keuangan tentu saja harus bisa mengelola keuangan keluarga dengan baik. Sayang sekali tingkat literasi keuangan perempuan di Indonesia masih rendah dibandingkan laki-laki yaitu sebesar 25%. 

Untuk itu Visa sebagai perusahaan teknologi pembayaran global terdepan meluncurkan Kampanye Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak supaya para ibu di Indonesia bisa mengelola keuangan rumah  tangga mereka dengan baik.


Allhamdulillah saya berkesempatan mengikuti workshop literasi di RPTRA Kopi Gandaria, Pekayon, Jakarta Timur pada hari Senin, 10 September 2018 bersama dengan ibu-ibu PKK dari Kelurahan Pekayon. 
Kali ini Visa bekerjasama dengan OJK dan BI melanjutkan kesuksesan kampanye yang sama dengan tujuan mengasah lebih banyak lagi perempuan khususnya para ibu dengan mengajarkan pengelolaan keuangan yang bijak dan mendorong mereka untuk berbagi pengetahuan tersebut pada anggota keluarga dan lingkungan - Riko Abdurrahman (Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia).

Bijak Kelola Keuangan 

Siapa yang mau punya dompet yang selalu awet muda? Syaratnya harus bisa mengelola keuangan kata mbak Prita Hapsari Ghozie.



Ada 3 langkah yang harus dilakukan supaya punya keuangan yang ideal yaitu :

Financial Check Up

Di dalam keluarga ternyata wajib juga mencatat pemasukan dan pengeluaran uang. Pernah gak mengalami setelah mengambil uang di ATM tau-tau kok uangnya sudah habis begitu saja dan lupa sudah digunakan untuk keperluan apa saja.

Saya sendiri juga masih suka melupakan pencatatan keuangan kok, tapi mulai sekarang harus lebih disiplin lagi demi kesejahteraan keluarga. Kalau semua pengeluaran dan pemasukan uang dicatat dijamin deh dompetnya bisa selalu awet muda.

Mengelola Arus Kas

Sebelum mengelola uang sebaiknya kita mengetahui dulu kondisi kesehatan dompet atau keuangan. Kalau dalam keadaan sakit sebaiknya diobati dulu atau diperbaiki terlebih dahulu keuangan agar tiap bulannya makin sehat. Karena pengelolaan dompet yang sakit dan sehat pastinya berbeda.

Pengelolaan arus kas bagi mereka yang memiliki penghasilan bulanan dan harian juga pastinya berbeda. Berapa pun penghasilan kita perlu mengendalikan pengeluaran.

Merencanakan Keuangan

Nah, sebelum Mbak Prita menyampaikan materinya, kami dibagikan selembar kertas untuk mengisi ilustrasi pemasukan dan pengeluaran yang ideal.

Tenang saja kalau tidak tahu, kita bisa belajar sama-sama supaya bisa mengelola keuangan dengan  baik.  Supaya gak bingung ada rumus yang diberikan oleh Mbak Prita dalam mengatur keuangan seperti berikut ini :
  • Sedekah 5%
  • Cicilan utang 30%
  • Dana darurat 10%
  • Biaya hidup 30%
  • Gaya hidup 10%
  • Investasi 15%

Keuangan yang sehat itu artinya biaya hidup harus lebih kecil dari pemasukan setiap bulannya.

Sekarang kita bahas ya satu-satu mulai dari sedekah sudah termasuk zakat atau amal ya. Sebagai umat muslim tentunya di dalam harta kita ada harta orang-orang yang membutuhkan. Untuk itu ada pembagian sedekah yang perlu diketahui dan wajib dijalankan sesuai dengan aturan tertentu.

Siapa bilang kita tidak boleh punya hutang? boleh-boleh aja kok punya hutang atau cicilan asalkan bukan untuk biaya hidup seperti makan, bayar listrik dan lainnya. Jika hal ini terjadi maka akan berbahaya bisa-bisa gali lubang tutup lubang setiap bulannya. Punya hutang cicilan rumah atau kendaraan masih diperbolehkan karena ini bukan sebagai biaya hidup apalagi kalau mobilnya digunakan sebagai usaha. Yang perlu diperhatikan dalam hal hutang adalah tidak lebih dari 30% jika ingin dikatakan mempunyai keuangan yang sehat.

Dana darurat itu harus dimiliki besarnya 3 kali biaya hidup tiap bulannya. Dana tersebut bisa digunakan jika sewaktu-waktu tidak ada pemasukan. Dana itulah yang bisa digunakan selagi kita mencari biaya hidup ke depannya. Kalau sakit apakah boleh menggunakan dana darurat? sebaiknya sih sudah punya asuransi kesehatan atau BPJS sehingga tidak menganggu dan darurat yang ada.

Biaya hidup yang ideal itu harus lebih kecil dari pemasukan setiap bulannya supaya keuangan bisa selalu sehat. Jangan sampai deh biaya hidup lebih besar dari pemasukan, bisa-bisa akan berhutang kemana-man.

Gaya hidup, ingat ya ibu-ibu jangan sampai belanja bulanan dengan cara berhutang. Kalau pun mau menggunakan kartu kredit pastikan ada dananya untuk membayar kebutuhan bulanan tersebut. Jadi, kartu kredit hanya untuk memudahkan pembayaran saja. Tidak mudah tergiur dengan penawaran menarik nol persen. Kita harus punya prioritas apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau tidak. Kalau punya keinginan untuk membeli sesuatu sebaiknya menabung terlebih dahulu.

Investasi, Jangan lupa untuk mempunyai assurance yaitu jaminan hidup agar tetap baik meskipun kena musibah dengan menyediakan dana darurat dan asuransi.

Kalau pengeluaran melebihi pemasukan harus dicari cara bagaimana cara menambah penghasilan dengan cara bekerja aktif, menjadi investor atau womenpreneur.



Don't save what is left after spending but spend what is left after savings - Wareen Buffet


Womenpreneur Gina Adityaligina


Ngomongin womenpreneur ada mbak Gina juga loh ikut hadir, beliau adalah pemilik Gammara Leather yang ikut memberikan tips pada ibu-ibu cara menjadi womenpreneur supaya bisa menambah penghasilan keluarga.



Mendengar Gammara  Leather sepertinya saya familiar sekali, ternyata ini adalah tempat bekerjanya Mbak Lidya yang baru di Bandung. Pantas saja seperti pernah mendengar.

Kembali ke Gammara Leather ya, semua produknya dibuat di Bandung dengan menggunakan nama-nama daerah di Indonesia agar lebih dikenal oleh orang luar negeri. Produk Gammara sendiri sudah diekspor ke Perancis, Jepang, Belanda, Arab, dan Taiwan.

Mbak Gina memberikan tiga langkah penting dalam berusaha yaitu :


  1. Goal. Menyusun dan membangun sasaran dengan perhitungan yang matang.
  2. Financial Management. Walaupun itu usaha milik kita sendiri jangan segan untuk menggaji diri sendiri. sebaiknya dalam melakukan investasi dilakukan dengan cara menabung terlebih dahulu bukan berhutang karena belum ketahuan usaha kita berjalan seperti apa.
  3. Afirmasi positif dan visualisasi dengan membayangkan kesuksesan akan diraih.

Awal mulanya Mbak Gina terjun dibisnis ini adalah karena butuh, jadilah beliau mencoba berjualan produk-produk tersebut. Ternyata bisnisnya pun turunan dari ibunya yang suka berjualan. Berawal dari butuh lama-lama menjadi bisnis yang menjanjikan ya dan bisa menambah penghasilan.



Senang sekali mendapatkan banyak informasi keuangan dari 2 wanita hebat ini. Allhamdulillah saya mendapatkan buku dari Mbak Prita, semoga saya juga bisa menjadi menteri keuangan yang bijak untuk keluarga.