Ada satu hal yang selalu saya yakini hingga saat ini: belajar itu tidak pernah mengenal kata usai. Tidak peduli berapa pun usia kita, apakah kita seorang laki-laki atau perempuan, baru mau melangkah ke jenjang pernikahan atau sudah mengarungi rumah tangga bertahun-tahun, proses belajar adalah perjalanan seumur hidup. Menikah bukanlah titik akhir dari sebuah pembelajaran, melainkan gerbang awal untuk terus memahami ilmu-ilmu baru, khususnya tentang bagaimana merawat hubungan dan memahami manusia di samping kita.
Media pembelajaran pun bisa datang dari mana saja. Mulai dari buku, percakapan hangat, hingga seni pertunjukan. Semangat untuk terus belajar inilah yang membuat saya begitu antusias ketika seorang teman mengajak saya hadir di sebuah acara yang sudah cukup lama saya nantikan: Edutainment Theater “The Soulmate” yang digelar di Gedung Usmar Ismail, Jakarta.
Pertunjukan yang menghadirkan dr. Aisyah Dahlan bersama Ranty Purnamasari ini menyuguhkan kisah edukasi rumah tangga yang luar biasa indah. Melalui panggung teater tersebut, kami diajak menyelami realitas perbedaan watak dalam rumah tangga. Satu pesan dari dr. Aisyah Dahlan yang merasuk begitu dalam ke benak saya adalah tentang konsep soulmate itu sendiri. Dalam soulmate, perbedaan itu pasti ada, tetapi bukan untuk dipertentangkan melainkan diselaraskan. Berpasangan berarti berjalan bersama, bukan merasa sendirian di tengah keramaian. Dari teater ini, setiap penonton diajak menyadari bahwa memahami adalah langkah pertama untuk mencintai dalam sadar.
Kami belajar bahwa semua watak manusia pada dasarnya baik dan merupakan karunia dari Allah SWT. Hanya saja, terkadang kita belum tahu cara mengelolanya dengan tepat. Ada orang yang mengekspresikan diri dengan terbuka, tetapi ada pula yang memilih menyimpan luka dalam diam. Padahal esensinya, keluarga diciptakan untuk saling melengkapi dan menyembuhkan. Itulah sejatinya arti dari seorang soulmate.
Momen Emosional di Tengah Kegelapan Gedung Teater
Berada di dalam ruang teater yang gelap selama hampir 3 jam penuh memberikan pengalaman emosional yang amat pekat. Hampir seluruh dialog yang dibawakan para pemeran terasa begitu mengena, sesekali mengiris-iris perasaan, hingga tanpa sadar membuat saya meneteskan air mata haru.
Namun, di tengah momen khusyuk dan emosional tersebut, ada satu tantangan fisik yang perlahan-lahan mulai mengganggu kenyamanan saya. Ruangan teater yang dingin karena hembusan AC yang begitu terasa, sorotan lampu panggung (spotlight) yang kontras dengan kegelapan penonton, serta fokus pandangan saya yang tidak boleh teralih sedetik pun agar tak ketinggalan alur cerita, ternyata menciptakan tekanan tersendiri bagi mata saya.
Ketika kita begitu asyik dan khusyuk menatap satu titik fokus dalam jangka waktu lama di ruangan ber-AC, tanpa disadari refleks berkedip otomatis berkurang drastis. Hembusan udara kering dari AC dipadu dengan frekuensi kedipan mata yang minim menjadi pemicu utama munculnya rasa tidak nyaman pada mata.
Awalnya, saya merasakan mata mulai terasa sepet. Saya coba mengedip-kedipkan mata beberapa kali, berharap lapisan air mata membasahi permukaan mata kembali. Sayangnya, rasa perih justru mulai menyusul, menyisakan sensasi seperti ada pasir atau ganjalan kecil di dalam mata. Rasa perih ini lambat laun berubah menjadi sensasi mata yang amat lelah dan berat untuk terus terbuka. Ya, tanpa saya sadari saat itu, saya sedang mengalami rincian dari gabungan gejala yang sering kita sebut sebagai rasa Mata SEpet, PErih, LElah.
Saat Gejala Mata Kering Merusak Kekhusyukan Momen
Sungguh disayangkan ketika momen penting yang sudah dinantikan sejak lama harus terdistraksi hanya karena rasa tidak nyaman pada organ penglihatan. Saat babak teater memasuki adegan yang paling mengharukan di mana karakter di panggung sedang berdialog tentang luka yang tersimpan dalam diam saya justru tersiksa karena mata yang semakin perih.
Awalnya saya mengira mata saya basah murni karena terharu meneteskan air mata. Namun, rasa panas dan perih yang tertahan membuat saya sadar bahwa ini adalah sinyal protes dari mata saya sendiri. Fokus saya yang tadinya 100% terserap ke dalam pesan-pesan indah dr. Aisyah Dahlan mendadak terpecah. Saya jadi lebih sering mengerjapkan mata, mengusap area sekitar mata dengan hati-hati, dan kehilangan keheningan momen berharga tersebut.
Pengalaman ini menjadi teguran kecil namun berarti bagi saya. Momen langka belajar ilmu kehidupan yang begitu berharga jadi sedikit ternoda hanya karena saya mengabaikan kondisi kesehatan mata sejak awal masuk ruangan.
Menemukan Kesegaran Kembali dan Pengalaman Menggunakan INSTO DRY EYES
Sadar bahwa kondisi mata yang sepet dan perih ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut sampai acara selesai, saya teringat akan penyelamat yang selalu saya siapkan di dalam tas kecil saya. Saat jeda singkat pertunjukan, saya merogoh tas dan mengambil botol kecil INSTO DRY EYES.
Menemukan produk ini sebenarnya berawal dari kebiasaan saya yang sering beraktivitas di ruang ber-AC dan di depan layar digital. Karena sering mengalami rasa ganjal pada mata, saya mencari solusi yang memang khusus diformulasikan untuk mengatasi masalah kekurangan cairan pelumas mata.
Begitu saya meneteskan 1–2 tetes tetes mata ini ke masing-masing mata, efeknya terasa sangat cepat dan menenangkan. Sensasi sejuknya seketika membasahi permukaan mata yang kering. Rasa perih yang mengganjal dan efek sepet perlahan meluruh, digantikan oleh rasa segar yang membuat pandangan kembali jernih dan nyaman.
Berkat perlindungan ini, saya bisa kembali menikmati sisa pertunjukan teater The Soulmate hingga akhir dengan penuh konsentrasi dan kenyamanan, tanpa perlu terganggu lagi oleh rasa perih yang menyiksa.
Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Mata dalam Situasi Serupa
Pengalaman menonton teater ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya menjaga kelembapan mata saat berada di situasi berisiko. Jika Anda sering menghadiri acara berdurasi panjang di ruang ber-AC, pertunjukan seni, atau bekerja dalam waktu lama di depan layar, berikut beberapa tips praktis untuk merawat mata:
- Latih Kedip Sadar (Conscious Blinking): Saat fokus menatap panggung atau layar, buat pengingat dalam diri untuk menyempatkan berkedip secara penuh agar air mata alami terdistribusi merata.
- Hindari Hembusan Udara Langsung: Usahakan tidak duduk tepat di bawah hembusan airflow AC yang mengarah langsung ke wajah atau mata.
- Cukupi Hidrasi Tubuh: Selalu minum air putih yang cukup sebelum dan sesudah acara untuk membantu produksi air mata alami dari dalam.
- Istirahatkan Pandangan Sejenak: Alihkan pandangan dari objek fokus setiap 20–30 menit sekali, biarkan otot mata rileks sejenak melihat objek yang netral.
- Sedia Tetes Mata Khusus: Mengabaikan rasa tidak nyaman pada mata adalah kesalahan besar. Mengenali sinyal Gejala Mata Kering sejak dini akan membantu kita mengambil tindakan tepat sebelum mengganggu aktivitas.
Peka pada Soulmate, Peka pada Mata Diri Sendiri
Menonton edutainment teater The Soulmate memberikan dua refleksi besar yang saling menaut dalam hidup saya hari itu.
Pertama, tentang bagaimana kita belajar peka terhadap pasangan dan orang-orang tersayang. Rumah tangga yang hangat dibangun di atas fondasi kepekaan terhadap rasa nyaman satu sama lain. Kita diajak untuk tidak mengabaikan sinyal-sinyal kecil, seperti luka yang tersimpan dalam diam atau rasa lelah yang tak terucapkan dari pasangan kita.
Kedua, teater ini juga mengajarkan bahwa kepekaan dan prinsip "mencintai dalam sadar" harus kita terapkan pada diri sendiri (self-care). Tubuh kita, khususnya mata, sering kali memberikan sinyal ketika mereka merasa lelah dan butuh bantuan. Rasa sepet, perih, dan ganjal adalah bentuk "jeritan diam" dari mata kita yang kekurangan kelembapan.
Sama halnya seperti hubungan yang tidak boleh dibiarkan makin hambar, kondisi mata yang menunjukkan gejala sepet, perih, dan lelah juga tak boleh kita anggap sepele. Ingatlah selalu pesan penting bahwa gerakan kampanye #MataSePeLeJanganSepelein ini adalah bentuk kepedulian pada kesehatan mata kita.
Ketika kita peka terhadap kebutuhan diri sendiri dan selalu siap sedia merawat kelembapan mata bersama #InstoDryEyes, kita bisa kembali menikmati setiap momen berharga dalam hidup dengan nyaman dan fokus penuh. Mari terus belajar, peka pada pasangan, dan pastikan kita selalu #BebasMataKering di setiap langkah kehidupan bersama INSTO DRY EYES!









0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya