Pengin mudik tapi nggak punya kampung, coba "Pulang" ke Tulungagung deh sekalian berkunjung ke tempat wisata sejarah dan budaya yang menarik serta merasakan pengalaman yang tak terlupakan. Jujur saja ini adalah pengalaman pertama saya datang ke Tulungagung, jadi tempat ini memang bukan kampung halaman saya. Tapi saya merasakan kedekatan dengan masyarakatnya apalagi diterima dengan baik dan ramah.

Pulang ke Tulungagung




Tulungagung Tempat Kita Akan Kembali


Tulungagung, sebuah kota di Jawa Timur ini sebelumnya belum pernah saya singgahi. Rasa keingintahuan saya akan tempat ini makin besar ketika diajak akan berpetualang di kota tersebut apalagi saat diinfokan kami akan melakukan camping di gunung dan pantai, saya langsung excited sekali karena belum pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumnya. Yang ada di bayangan saya adalah tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanan tersebut. Walaupun pernah camping sebelumnya, itupun hanya camping di puncak dan tak jauh dari kota.

Sebelum sampai ke Tulungagung, pastinya saya harus menyiapkan tiket perjalanan menuju tempat tersebut. Buat teman-teman yang tinggal di Jabodetabek ada banyak cara untuk menuju ke Tulungagung, bisa menggunakan kereta api, mobil atau bus, serta pesawat. Hanya saja jika memilih moda transportasi pesawat, kita harus transit di Bandar Udara Juanda sebelum melanjutkan perjalanan ke Tulungagung menggunakan mobil sewaan atau bus.

Supaya lebih praktis, waktu itu saya memilih perjalanan menggunakan kereta api karena bisa langsung turun di stasiun Tulungagung. Ada beberapa pilihan kereta api yang tersedia mulai dari kelas ekonomi hingga executive dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki. Waktu itu berangkatnya saya naik kereta ekonomi dan pulang menuju ke Bekasi naik kelas executive. Keduanya kelas yang ada di kereta api sama-sama nyaman kok, karena pihak PT. KAI terus berbenah untuk melayani penumpangnya agar merasa nyaman.

Baru satu kali berkunjung ke Tulungagung ternyata membuat saya kangen ingin kembali lagi ke sana. Benar sekali apa yang dikatakan oleh orang-orang sana, katanya Tulungagung itu bukan kota tempat kita singgah, melainkan kota tempat kita ingin kembali lagi.

Pas sekali nih kalau mau kembali lagi ke Tulungagung, karena kondisi pandemi sudah semakin membaik sehingga pariwisata pulih kembali. Karena masih banyak lokasi wisata sejarah dan budaya yang belum saya kunjungi, boleh kapan-kapan dijadwalkan datang kembali ke kota di ujung Pulau Jawa tersebut.

Karena gak sabar ingin kembali lagi ke sana, saya sering melihat jadwal kereta api dan penginapan di Tulungagung sambil menyesuaikan dengan waktu yang sesuai. Browsing akomodasi dan rekomendasi tempat wisata yang menarik di Tulungagung paling seru kalau didukung oleh internet stabil.


Pilih Camping di Gunung atau Pantai?


Sebetulnya ada beberapa tempat yang kami kunjungi di Tulungagung waktu itu, tapi saya mau fokus cerita tentang camping saja. Ada dua tempat camping yang kami datangi untuk bermalam di sana, masing-masing punya cerita dan keunikan yang berbeda. Sekedar informasi saja, kalau teman-teman akan berlibur di kota ini, cari penyewaan mobil saja dan minta diantar ke tempat-tempat yang akan dikunjungi karena di sana belum ada kendaraan umum semacam angkutan umum seperti di Jabodetabek. Mudah kok mencari jasa travel di sana apalagi jika kita menyiapkan segala sesuatunya dari rumah lebih awal karena semuanya bisa dicari melalui dunia maya dengan bantuan internet stabil. Saya berharap sih nantinya akan banyak transportasi umum yang beroperasi supaya lebih banyak lagi wisatawan yang datang.

puncak candi urung




Begini Rasanya Camping di Situs Bersejarah

Tempat camping yang pertama kali kami kunjungi adalah di sekitar Candi Urung yang tempatnya ada di atas bukit. Sebelum melakukan pendakian, kami berkumpul terlebih dahulu di basecamp untuk mengatur peralatan camping yang diperlukan dan melakukan briefing agar perjalanan lancar.

Sebetulnya jarak pendakian tidak terlalu jauh, namun karena kondisi pendakian yang menanjak dan agak becek setelah hujan makanya kami memerlukan kekuatan fisik yang lebih baik. Bayangan saja kalau biasanya jarak 500 meter bisa ditempuh dalam waktu 5-10 menit jalan kaki, beda halnya kalau pendakian bisa-bisa 1 jam baru sampai.

Candi Urung



Kelelahan yang saya rasakan utnuk mendaki, terbayar semua ketika sudah tiba di lokasi. Pemandangan di sekitar Candi Urung cantik sekali, apalagi kita bisa melihat view kota Tulungagung dari atas sana. Untungnya kami bisa langsung menempati tenda masing-masing. Bisa dibayangkan kalau harus mendirikan tenda terlebih dahulu, gak akan beres deh, maklum belum pernah melakukannya.

Kami bermalam di lokasi Candi Urung hanya semalam, pagi-pagi harus berjalan kembali menuju candi Dadi hanya saja dibatalkan karena cuaca tidak mendukung. Belum rezeki sampai di sana, tanda harus kembali lagi ke tempat ini. Meskipun penampakan candinya sudah tidak terlihat lengkap, tapi kami masih bisa melihat reruntuhannya yang masih tertinggal.

Camping di gunung itu ternyata kita bisa belajar bersahabat dengan alam, karena disana tidak ada toilet apalagi kamar mandi. Jadi, kami harus bisa menjaga alam dan tidak mengotorinya. Kalau mau buang air sudah dibuatkan toilet sementara (tapi jangan dibayangkan toilet yang ada di rumah lho). Untungnya masih ada aliran air yang bisa kami gunakan. Di sini saya jadi belajar menghargai keadaan saat ini, dan bisa refleksi diri kalau tidak semua keinginan kita itu berjalan sesuai kehendak kita.


Sensasi Camping di Pantai Coro


Pagi hari setelah merapikan lokasi camping di sekitar Candi Urung, kami pun bersiap turun dari gunung untuk menuju ke lokasi camping selanjutnya di Pantai Coro. Untuk menuju ke Pantai Coro kami naik mobil terlebih dahulu kemudian dilanjut naik kapan dari Pantai Sine menuju Pantai Popoh dan dilanjutkan kembali naik mobil ke Pantai Coro.

Melelahkan ya perjalanannya apalagi harus ada di lautan lepas di laut selatan selama dua jam? Meskipun lelah dan tegang tapi kami punya pengalaman yang tidak terlupakan dan membuat kami selalu ingat dengan Yang Maha Kuasa sang pencipta. Kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi.

Ketegangan dalam perjalanan pun langsung teralihkan ketika melihat Pantai Coro yang cantik. Di tempat ini kami camping kembali. Ketika malam tiba terdengar deburan ombak begitu dekat, karena memang kami mendirikan camping di pinggir pantai. Pokoknya seru sekali pengalaman camping kali ini.

pantai coro



Di Pantai Coro kami tidak bisa berenang karena arus di Pantai Selatan yang besar. Tapi kami tak mau melewatkan waktu untuk mengambil gambar dan membuat konten yang bagus sebagai kenang-kenangan pernah menginjakkan kaki di tempat tersebut. Angan-angan saya untuk bisa lari di pantai pun diurungkan. Pantai Coro ini tempatnya eksotis meskipun dibutuhkan perjuangan menuju ke sana. Oh ya buat yang belum tahu arti kata "coro" artinya kecoa. Mungkin dulunya ada kerajaan kecoa ya di sini hihihi.

Dari pengalaman camping di dua lokasi yang berbeda, jika harus memilih lebih suka tempat yang mana? Saya gak akan memilih karena kedua tempat punya sensasi yang berbeda dan pengalaman seru serta menarik yang berbeda pula sehingga tidak bisa dibandingkan.

Jadi gimana nih teman-teman ingin merasakan berpetualang ke Tulungagung juga? Jangan lupa merencanakan itinerary terlebih dahulu ya seperti booking tiket, pesan hotel atau penginapan, dan keperluan lainnya. Browsing tempat wisata yang akan dikunjungi sejak dini juga penting, supaya kita bisa menentukan lokasi mana saja yang menarik untuk dikunjungi. Untungnya saya menggunakan internet stabil dari IndiHome sejak lama sehingga mudah sekali mencari informasi yang dibutuhkan dengan cepat.

Ayo kita wisata bareng lagi, mumpung sudah ada kebijakan boleh buka masker di ruangan terbuka, sehingga travelingpun makin seru, tapi tetap saling menjaga ya! Bangkit Bersama IndiHome dari TelkomGroup bersama kita pulihkan kembali wisata dalam negeri.

Kalian tim ransel atau koper nih? Apapun tentengan kalian ayo wisata bareng jelajahi negeri!