Ada momen-momen dalam hidup yang terasa kecil, tetapi diam-diam menyimpan makna yang sangat besar. Bagi sebagian orang, awal tahun mungkin identik dengan resolusi, daftar target, atau sekadar kalender baru yang masih bersih. Bagi saya, awal tahun selalu punya satu ritual yang tak pernah absen: lari pertama.
Bukan lari biasa, melainkan lari yang penuh kesadaran. Lari yang bukan tentang kecepatan, bukan tentang pencapaian, tetapi tentang menyapa waktu dengan cara paling jujur yang saya tahu—melangkah. Tahun demi tahun berlalu, kebiasaan ini tumbuh tanpa saya sadari. Hingga akhirnya saya menyadari satu hal: saya tidak sedang berolahraga, saya sedang berdialog dengan diri sendiri.
Tahun 2026 pun saya sambut dengan cara yang sama, namun tetap terasa berbeda.
Ritual Angka Cantik yang Selalu Saya Tunggu
Ada satu kebiasaan kecil yang selalu membuat lari awal tahun terasa spesial. Saya menyebutnya “ritual angka cantik”. Sederhana saja: memilih jarak lari yang selaras dengan angka tahun yang baru datang.
Bukan karena takhayul, bukan pula sekadar ikut-ikutan tren pelari. Lebih seperti cara personal memberi bentuk pada sesuatu yang abstrak. Tahun bukan lagi sekadar angka di kalender, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan, dijalani, bahkan “dipeluk”.
Jika tahun sebelumnya saya berlari dengan cerita di Bekasi, maka 2026 saya putuskan memiliki kisah yang berbeda. Tahun ini saya memilih 20,26 kilometer—jarak yang terdengar teknis, tetapi bagi saya terasa simbolis. Ada rasa intim dalam angka itu, seolah saya benar-benar menyapa 2026, bukan hanya melewatinya.
Di balik keputusan sederhana itu, ada niat yang jauh lebih tenang: saya tidak ingin mengejar apa pun. Saya hanya ingin bernapas lebih panjang, menata hati, dan memberi ruang bagi perasaan yang ingin tinggal lebih lama.
Jakarta, Pagi, dan Langkah yang Lebih Personal
Pagi pertama itu dimulai di Jakarta, kota yang selalu terasa hidup bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik. Kami memulai dari FX Sudirman—saya, anak, dan suami. Tiga orang dengan tujuan yang sama, tetapi ritme yang berbeda.
Kami berdiri di titik start bersama, namun tidak dengan ambisi untuk berlari berdampingan sepanjang rute. Tidak ada diskusi tentang pace, tidak ada strategi untuk tetap rapat sebagai satu grup. Justru di situlah keindahannya.
Kami berlari sebagai diri kami masing-masing.
Saya selalu percaya bahwa lari adalah perjalanan yang sangat personal. Bahkan ketika dilakukan bersama orang-orang terdekat, ia tetap menjadi ruang sunyi antara tubuh dan pikiran sendiri. Ada kebebasan yang terasa ringan ketika tidak ada tuntutan untuk menyamakan langkah.
Langkah demi langkah membawa saya menuju Monas. Di titik ini, perasaan yang muncul selalu serupa setiap tahun: reflektif, tetapi tidak berat. Monumen itu berdiri seperti pengingat diam bahwa waktu bergerak tanpa pernah menunggu siapa pun benar-benar siap.
Di kilometer-kilometer awal, tubuh masih terasa ramah. Napas masih stabil, kaki masih ringan. Pikiran mulai mengembara—tentang tahun yang baru saja ditutup, tentang hal-hal yang berhasil dilewati, juga tentang hal-hal yang belum sempat diwujudkan.
Namun anehnya, tidak ada rasa terburu-buru untuk “memperbaiki” apa pun. Hanya kesadaran sederhana bahwa hidup, seperti lari jarak jauh, tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kita untuk terus bergerak.
Memberi Ruang, Menemukan Makna
Perjalanan berlanjut melewati Bundaran Senayan hingga masuk ke kawasan Gelora Bung Karno. Di sini, tubuh mulai berbicara lebih jujur. Napas tak lagi selembut di awal, langkah mulai meminta perhatian lebih.
Tetapi justru di titik inilah makna lari pertama tahun ini terasa semakin nyata.
20,26 kilometer bukan jarak yang ekstrem, tetapi cukup panjang untuk membuat seseorang berdamai dengan rasa tidak nyaman. Cukup jauh untuk menyadari bahwa ketenangan bukan berarti tanpa lelah, melainkan kemampuan untuk tetap hadir meski tubuh mulai menuntut berhenti.
Di setiap langkah, saya seperti menata ulang sesuatu yang tak terlihat—emosi, kekhawatiran, harapan. Tidak ada target performa, tidak ada tekanan angka. Hanya ritme napas dan detak jantung yang terasa begitu hidup.
Yang paling saya sukai dari pengalaman ini adalah filosofi kecil yang muncul tanpa direncanakan: kami memulai bersama, berlari dengan pace masing-masing, lalu bertemu kembali di garis finish.
Ada pelajaran hangat di sana.
Dalam hidup, bahkan dalam keluarga, setiap orang punya ritme sendiri. Tidak semua perjalanan harus ditempuh berdampingan tanpa jarak. Kadang, memberi ruang justru membuat pertemuan terasa lebih bermakna. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang harus dipaksa melambat atau mempercepat.
Kami hanya perlu percaya bahwa pada akhirnya, kami akan bertemu di tujuan yang sama.
Ketika akhirnya saya kembali ke FX Sudirman, garis finish terasa lebih dari sekadar akhir rute. Tidak ada euforia berlebihan, tidak ada dramatisasi kelelahan. Hanya rasa lega yang tenang.
Saya melihat wajah-wajah yang saya kenal, senyum yang familiar, dan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh angka kilometer mana pun.
Lari pertama di 2026 ini bukan tentang jarak. Ia tentang niat. Tentang cara sederhana menyapa tahun baru tanpa beban yang tidak perlu. Tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk hadir sepenuhnya—dalam napas, langkah, dan rasa.
Karena pada akhirnya, seperti lari, hidup bukan soal seberapa cepat kita sampai.
Tetapi seberapa utuh kita menjalani setiap langkahnya.

.jpg)






0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya