Sering kali kita merasa sudah cukup baik hanya dengan memberikan santunan kepada anak yatim. Rasanya seperti sebuah kewajiban yang selesai ditunaikan setelah kita menyisihkan sebagian rezeki. Mungkin ada rasa tenang di hati setelah berbagi, tapi pernahkah terlintas di pikiran, "Setelah santunan hari ini habis, bagaimana kelanjutan hidup mereka esok hari? Siapa yang akan menemani mereka saat ujian sekolah terasa berat? Siapa yang akan memeluk mereka saat kerinduan akan sosok ayah tak tertahankan?"
Pertanyaan itulah yang terus berputar di kepala saya saat melangkah masuk ke ANTARA Heritage Centre, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026. Siang itu, suasana gedung yang didesain dengan pencahayaan temaram membuat suasana terasa begitu intim, hangat, sekaligus sangat emosional. Saya hadir di sana untuk menyaksikan peluncuran program BesTeam, sebuah akronim penuh makna dari Bestian Sama Yatim yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa.
Muharram, Bulan untuk Anak Yatim
Kehadiran saya di sana bukan sekadar tamu, melainkan saksi sebuah ikhtiar besar di bulan Muharram 1448 H. Kita tahu, bulan ini sering disebut sebagai "bulannya anak yatim". Ada keutamaan luar biasa dalam memuliakan anak yatim, sebuah tanggung jawab kemanusiaan yang menjadi amanah bagi kita. Program BesTeam ini hadir untuk mendobrak paradigma lama; bahwa memuliakan anak yatim bukan sekadar aksi sosial sesaat, melainkan tentang membangun persaudaraan jangka panjang. Dompet Dhuafa menegaskan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kekuatan individu, melainkan dari kebersamaan dan ikhtiar untuk menebar cinta.
Saat Lagu Tentang Ayah Membuka Hati
Momen paling menyesakkan dada terjadi saat seorang anak yatim tampil di atas panggung membawakan lagu tentang sosok ayah dengan suasana ruangan yang temaram, membuat hati saya semakin terenyuh. Saya melihat air mata di mata beberapa tamu. Melihat mereka yang harus tumbuh dengan ruang kosong di sisi mereka tanpa sosok orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung rasanya sungguh pilu. Mereka adalah anak-anak dengan potensi besar, namun sering kali harus berjuang dengan keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan dukungan sosial yang memadai.
Di tengah rasa sedih itu, secercah harapan justru menyala terang ketika saya mendengarkan testimoni dari alumni penerima beasiswa Youth Ekselensia Scholarship (YES), Rahmad Gustaf Kurniawan Lubis. Ia bercerita dengan mata berbinar betapa bahagianya saat ia akhirnya diterima di perguruan tinggi impiannya berkat dukungan beasiswa dan pendampingan program ini. Melihat bagaimana mereka berhasil melewati masa-masa sulit, melanjutkan pendidikan, dan meraih prestasi di tengah keterbatasan, benar-benar membuat saya terenyuh. Mereka adalah bukti nyata bahwa jika anak yatim diberikan dukungan konsisten dan pendampingan yang tepat, mereka tidak hanya bisa bertahan, tetapi bisa berkembang menjadi generasi yang tangguh dan mandiri. Ini bukan lagi soal belas kasihan, tapi soal kesempatan.
Memberi dengan Kualitas Terbaik
Salah satu hal yang membuat saya sangat salut di acara ini adalah prinsip dalam memberi. Dompet Dhuafa dan Gramedia benar-benar memegang teguh konsep "memuliakan". Saya sendiri diberikan amanah berupa tas dan sejumlah alat tulis untuk disalurkan kepada anak yatim di sekitar tempat tinggal saya. Saat melihat dan memegang langsung produknya, saya benar-benar kagum. Kualitas tas dan alat tulisnya bukan main-main sangat bagus, kokoh, dan fungsional. Jujur saja, saya sendiri sempat "naksir" dengan tasnya yang modis dan berkualitas tinggi! Ini mengajarkan saya bahwa memberi jangan asal memberi. Memberikan barang terbaik adalah salah satu cara kita menghargai dan memuliakan anak yatim. Mereka layak mendapatkan yang terbaik, bukan barang sisa atau kualitas nomor dua.
Kebahagiaan yang Menular
Tak hanya terpaku pada materi acara, saya juga sempat berinteraksi langsung dengan anak-anak yatim yang hadir. Saya menyempatkan diri untuk berfoto bersama mereka. Melihat tawa lepas dan wajah-wajah ceria mereka yang terlihat happy sekali, seolah beban hidup yang mereka pikul sejenak hilang. Ada kepolosan yang indah di sana. Kebahagiaan mereka menular, membuat saya sadar bahwa kehadiran kita—sebagai pendukung dan "bestie" bagi mereka—sangatlah berarti. Bagi mereka, diperhatikan dan diajak berinteraksi adalah bentuk kasih sayang yang mungkin lebih berharga daripada nominal materi apa pun.
BesTeam: Lebih dari Sekadar Bantuan
Program BesTeam hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut dengan empat nilai utama: Best Heart, Best Mind, Best Future, dan Best Impact. Fokus utamanya sangat jelas: membangun pemberdayaan yang terintegrasi:
- Best Heart: Menumbuhkan kasih sayang, kepercayaan diri, dan kekuatan mental. Kita mendampingi mereka agar tidak merasa sendiri.
- Best Mind: Membangun kecerdasan dan pendidikan agar mereka memiliki masa depan yang mandiri.
- Best Future: Menghadirkan peluang dan harapan agar mereka menjadi generasi yang berdaya.
- Best Impact: Menghadirkan dampak yang optimal bagi sekitar dengan merangkul mereka untuk berkontribusi.
Program ini mencakup dukungan yang sangat luas, mulai dari beasiswa pendidikan, bantuan nutrisi, hingga akses kesehatan dan pengembangan bakat. Bagi saya, pendekatan ini sangat holistik karena menyentuh aspek psikologis sekaligus ekonomi secara berkesinambungan. Kita tidak membiarkan mereka berjuang sendiri melawan ketidakpastian masa depan.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Harapan Baru
Saya sangat terkesan melihat bagaimana Dompet Dhuafa merangkul kolaborasi lintas sektor. Melalui kampanye "Happy Family Coloring", Gramedia berkomitmen menyebarkan paket alat tulis ke seluruh penjuru negeri untuk membantu anak yatim dan dhuafa belajar dengan fasilitas yang layak. Ini adalah wujud nyata bagaimana dunia usaha dan lembaga filantropi bisa bersinergi demi menghadirkan peluang baru bagi masa depan mereka. Kolaborasi ini memberi sinyal kuat bahwa masa depan anak yatim adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas keluarga atau lembaga sosial saja.
Menjadi "Bestie" untuk Mereka
Acara tersebut dihadiri oleh figur yang memiliki kepedulian tinggi, mulai dari pimpinan Dompet Dhuafa seperti Bapak Ahmad Juwaini dan Bapak Widodo, hingga tokoh publik seperti Teuku Wisnu, serta Ibu Elizabeth Driemirda dari pihak Gramedia. Mereka memberikan sudut pandang bahwa menjadi "bestie" atau sahabat bagi anak yatim adalah ikhtiar untuk menebar cinta.
Jujur, pulang dari sana, saya merenung panjang. Kita sering merasa sudah cukup baik dengan memberi bantuan hari ini. Namun, setelah melihat BesTeam bekerja, saya sadar mereka butuh pendampingan yang berkelanjutan. Mereka butuh sosok yang bisa mendengarkan mimpi-mimpi mereka dan membantu mewujudkannya. Mereka butuh seseorang yang tidak hanya datang lalu pergi, tapi seseorang yang benar-benar bisa disebut sebagai sahabat. Menjadi bestie berarti kita terlibat dalam proses tumbuh kembang mereka, dari mulai mereka bersekolah, beribadah, hingga mereka nantinya siap untuk mandiri dan memberikan dampak bagi orang lain.
Mari Melangkah Bersama
Kemuliaan tidak lahir dari kekuatan individu, melainkan kebersamaan. Menjadi sahabat bagi mereka adalah perjalanan panjang yang sangat berharga. Bagi kamu yang ingin ikut ambil bagian dalam perjalanan tumbuh mereka dan memastikan anak yatim di Indonesia terus berdaya, yuk, cari tahu lebih dalam melalui https://yatim.dompetdhuafa.org.
Mari jadikan bulan Muharram tahun ini titik awal untuk menjadi sahabat terbaik bagi mereka. Karena pada akhirnya, menjadi bestie bagi anak yatim bukan hanya membantu mereka meraih masa depan, tetapi tentang bagaimana kita memuliakan diri sendiri dengan berbagi kasih sayang. Mari melangkah bersama, memuliakan dengan aksi, dan mendampingi dengan hati! Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat mereka tersenyum karena tahu bahwa mereka tidak lagi berjuang sendirian.
Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang gemilang. Dengan komitmen dari berbagai pihak, termasuk keterlibatan masyarakat luas melalui donasi, orang tua asuh, dan kakak asuh, kita bisa memastikan keberlangsungan program ini. Mari kita satukan tekad untuk membangun ekosistem kepedulian yang lebih luas, memastikan setiap anak yatim di seluruh penjuru negeri mendapatkan hak-haknya untuk tumbuh menjadi Bright Generation yang membanggakan bangsa. Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi jembatan bagi mereka menuju masa depan yang lebih cerah. Dukunganmu adalah napas bagi mimpi-mimpi mereka. Jadi, apakah kamu siap menjadi bestie mereka?












0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya