Makan edamame rebus beli di pasar atau minimarket sudah biasa, gimana kalau panen dan petik sendiri edamamenya langsung dari pohonnya? Nah, itulah pengalaman pertama saya ikut panen edamame secara langsung yang terasa begitu seru dan berkesan!
Sebagai penyuka bahan makanan segar yang pengolahannya simpel cukup direbus sebentar tanpa perlu bumbu macam-macam edamame selalu jadi camilan favorit saya di rumah. Camilan sehat satu ini bukan cuma praktis disajikan, tapi juga kaya protein dan nutrisi. Tapi jujur saja, selama ini saya cuma terima beresnya dalam bentuk polong siap santap di dalam mangkuk. Baru pada Jumat, 24 Juli 2026 kemarin, saya benar-benar berkesempatan melihat bagaimana benih edamame ditaruh di tanah, tumbuh, hingga dipetik dari batangnya yang masih basah.
Pengalaman berharga ini saya dapatkan saat mengikuti rombongan teman-teman media dan tim Dompet Dhuafa. Kami berkumpul sejak pagi di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta, lalu bersama-sama menempuh perjalanan menuju kawasan Sukabumi untuk menghadiri peluncuran program Kebun Pangan Madaya. Di sepanjang jalan, obrolan hangat dan canda tawa mewarnai perjalanan kami, membuat waktu berjam-jam menembus lalu lintas tak terasa membosankan.
Oase Sejuk di Tanah Wakaf Green Lido
Begitu kendaraan berbelok memasuki kawasan Pesantren Tahfizh Green Lido, Sukabumi, rasa lelah di perjalanan seketika menguap. Pintu mobil dibuka, udara sejuk khas pegunungan dan aroma segar hijau tanaman langsung menyapa wajah. Paru-paru dan pikiran rasanya mendapat suntikan oksigen bersih yang sudah lama dirindukan setelah berminggu-minggu bergelut dengan hiruk-pikuk dan rutinitas perkotaan.
Sambil melangkah menikmati keasrian suasana sekitar, ada satu hal yang membuat hati saya begitu hangat. Area pesantren yang sangat luas ini ternyata merupakan tanah wakaf. Lahan produktif ini dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pendidikan Al-Qur'an, tempat pembentukan karakter para santri, sekaligus wadah pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Keterikatannya dengan nilai-nilai Dompet Dhuafa terasa sangat mengakar di sini. Memasuki usianya yang ke-33 tahun, Dompet Dhuafa terus memperkuat semangat Transformasi Filantropi Hijau. Lahan wakaf tidak dipandang sebagai aset fisik yang diam atau mati, melainkan dihidupkan menjadi ekosistem yang memberi manfaat nyata. Konsep ini berhasil menghubungkan antara pendidikan keagamaan, kepedulian sosial, dan pelestarian lingkungan hidup dalam satu langkah yang berkesinambungan.
Misi Besar di Balik Pembukaan Acara
Sebelum diajak melangkah menuju area perkebunan, acara dibuka melalui prosesi pembukaan yang hangat dan bersahaja di bawah naungan tempat yang nyaman. Kami mendengarkan beberapa penyampaian dari para tokoh yang memberikan gambaran utuh tentang betapa krusialnya gerakan ketahanan pangan berbasis masyarakat dari tingkat tapak.
Acara dibuka oleh Bapak Prima Hadi Putra selaku perwakilan LPIW Dompet Dhuafa, yang menekankan pentingnya mengelola dan merawat lahan produktif agar mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi warga. Penjelasan lalu dilanjutkan oleh Bapak Ahmad Juwaini selaku Pengurus YDDR, yang menguraikan visi besar filantropi hijau dalam membangun kemandirian ekonomi keluarga. Perwakilan dari Camat setempat juga turut hadir memberikan apresiasi serta dukungan penuh atas hadirnya program ini di wilayah mereka.
Mendengarkan penuturan beliau-beliau, saya menyadari bahwa Kebun Pangan Madaya ini disiapkan bukan sekadar untuk acara seremoni potong pita atau kumpul-kumpul belakangan. Ini adalah bentuk komitmen dan pendampingan jangka panjang agar masyarakat sekitar bisa mandiri secara pangan, memiliki gizi yang baik, sekaligus terangkat kesejahteraan ekonominya melalui pemanfaatan lahan secara produktif.
Tanam Bibit dan Memetik Edamame Segar
Usai sesi pembukaan selesai, bagian yang paling saya tunggu-tunggu pun tiba: kami semua diajak turun langsung ke area lahan perkebunan.
Di sana terhampar lahan yang tadinya merupakan area kosong tak terolah. Tanah tersebut kini sudah ditata rapi dalam bentuk bedengan-bedengan berselimut plastik mulsa yang siap ditanami. Saya berkesempatan melihat dari dekat proses penanaman bibit edamame baru di lahan tersebut. Menyaksikan benih-benih kecil diletakkan satu per satu ke dalam lubang tanah memberikan perenungan tersendiri tentang proses panjang di balik sepiring bahan pangan yang biasa kita nikmati di meja makan rumah.
Keseruan makin bertambah saat rombongan berpindah ke area kebun yang sudah siap dipanen. Rumpun-rumpun tanaman edamame tumbuh subur dengan polong-polong hijau yang gemuk, padat, dan sehat. Memegang serta memetik langsung batang edamame segar dari tanahnya—dengan sisa-sisa tanah basah yang masih menempel pada akarnya memberikan rasa puas dan kebahagiaan yang luar biasa!
Melihat polong hijau segar berpindah langsung dari kebun ke genggaman tangan, saya kembali teringat betapa istimewanya bahan makanan utuh (whole food). Edamame segar pilihan seperti ini kalau direbus sebentar saja dalam air mendidih rasanya sudah manis alami, gurih, renyah, dan sangat kaya nutrisi buat keluarga di rumah.
Menanam Harapan dan Kemandirian Masa Depan
Perjalanan singkat ke Sukabumi hari itu memberikan catatan perenungan yang sangat dalam buat saya pribadi. Sering kali kita merasa isu ketahanan pangan adalah urusan rumit skala besar yang jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari. Padahal, gerakannya bisa dimulai dari langkah nyata yang sangat dekat dengan kita: mengoptimalkan lahan pasif, pekarangan rumah, atau lingkungan sekitar untuk ditanami bahan pangan yang produktif.
Peluncuran Kebun Pangan Madaya pada momen Milad ke-33 Dompet Dhuafa ini menjadi bukti nyata bagaimana program bantuan sosial seharusnya dijalankan. Bukan sekadar memberikan bantuan instan yang habis dalam sekejap, melainkan mendampingi warga untuk bercocok tanam, mengelola hasil panen, memenuhi kebutuhan pangan bergizi keluarga, hingga membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.
Sore hari saat perjalanan kembali menembus arah Jakarta, rasa lelah di badan kalah oleh perasaan hangat, tenang, dan bersyukur di dalam dada. Selamat Milad ke-33 untuk Dompet Dhuafa! Terima kasih sudah terus konsisten menghadirkan gerakan-gerakan hijau yang memberdayakan, memberi harapan baru, dan berdampak nyata bagi sesama serta kelestarian bumi kita.












0 Comments
Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar. Mohon maaf semua komentar di moderasi ya